Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, Mei 16, 2026 — Honda mencatat kerugian tahunan pertamanya sejak 1955 akibat guncangan kebijakan kendaraan listrik di Amerika Serikat.
Produsen otomotif Jepang itu membukukan rugi bersih sebesar 403,3 miliar yen (Rp44,7 triliun) pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.
Total kerugian operasional mencapai 1,6 triliun yen (Rp177,5 triliun), jauh dari perkiraan laba sebelumnya yang mencapai US$7,4 miliar.
- Honda catat kerugian tahunan pertama sejak 1955 sebesar 1,6 triliun yen
- Perubahan kebijakan AS era Trump jadi pemicu utama
- GM, Ford, Stellantis alami kerugian besar hingga US$17,4 miliar
- Insentif EV US$7.500 dihapus, penjualan EV anjlok sejak September
- Produsen tetap hadapi aturan emisi ketat di Eropa, Asia, dan California
Kebijakan AS Pukul Industri EV Global
Kerugian besar Honda dipicu oleh perubahan drastis kebijakan otomotif di Amerika Serikat pada era Presiden Donald Trump.
Pemerintah AS mencabut aturan emisi ketat dan menghapus insentif pajak sebesar US$7.500 (Rp131,25 juta) bagi pembeli kendaraan listrik.
Akibatnya, penjualan EV di AS anjlok sejak September 2025.
Sementara itu, kenaikan harga bensin tidak mampu mendongkrak kembali minat masyarakat terhadap mobil listrik.
“Kebijakan baru di AS memaksa kami melakukan penyesuaian nilai investasi yang signifikan,” ujar juru bicara Honda dalam pernyataan resmi, Sabtu, Mei 16, 2026 pukul 5:36 am.
Sebelumnya, Honda dan banyak pabrikan global menggelontorkan investasi jumbo untuk mempercepat transisi ke EV dengan asumsi aturan emisi AS semakin ketat di bawah Joe Biden.
Namun pembatalan regulasi tersebut membuat perusahaan harus menurunkan nilai investasi EV yang mencapai miliaran dolar AS.
Gelombang Kerugian Merek Mobil Terkenal Lainnya
Honda bukan satu-satunya produsen yang merugi akibat koreksi strategi EV. General Motors mencatat kerugian US$7,2 miliar (sekitar Rp126 triliun) pada 2025 karena pengurangan agresif bisnis kendaraan listriknya.
Ford mengalami kerugian hingga US$17,4 miliar (sekitar Rp304,5 triliun) dan memperingatkan potensi biaya tambahan tahun ini.
Stellantis, induk merek Jeep, Ram, Dodge, dan Chrysler, membukukan kerugian 25,4 miliar euro (setara Rp521,97 triliun).
Meskipun demikian, produsen otomotif global belum sepenuhnya meninggalkan kendaraan listrik.
Mereka masih menghadapi aturan emisi yang lebih ketat di Eropa dan Asia, termasuk di California yang menargetkan pelarangan penjualan mobil bensin baru mulai 2035.
Honda sendiri memperkirakan masih ada potensi penurunan nilai investasi EV tambahan pada tahun fiskal berjalan, meski perusahaan meyakini dampaknya tidak akan menyebabkan kerugian tahunan lagi.












