Sulseltimes.com, Makassar, Rabu, Mei 20, 2026 — Andi Angga Prasadewa (32), relawan kemanusiaan asal Makassar, diduga dicegat dan disandera tentara angkatan laut Israel saat berlayar dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza, Palestina.
Ibunya, Sutrawati Kaharuddin (52), memohon kepada pemerintah Indonesia untuk segera menyelamatkan putranya yang ia tegaskan bukan seorang teroris.
- Andi Angga Prasadewa disandera saat misi bantuan ke Gaza
- Sutrawati Kaharuddin minta tolong Presiden Prabowo
- Angga satu-satunya relawan asal Sulawesi Selatan
- Kapal dicegat tentara Israel di perairan Siprus
- Global Peace Convoy Indonesia konfirmasi keberadaan Angga dalam rombongan
Keluarga Khawatir, Ibu Berharap Bantuan Pemerintah
Sejak Senin, 18 Mei 2026, nomor ponsel Andi Angga Prasadewa tak bisa dihubungi.
Ia berangkat bersama misi Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina.
Rombongan berlayar dari Turki setelah menjalani pelatihan selama sekitar sepekan.
“Sekitar jam empat sore saya hubungi, tapi sudah tidak aktif. Dia memang berangkat membawa bantuan kemanusiaan ke Palestina lewat jalur laut,” ujar Sutrawati kepada wartawan, Rabu, Mei 20, 2026.
Menurut Sutrawati, putranya telah bekerja sebagai amil di Rumah Zakat Bandung selama tiga tahun terakhir.
“Sudah sekitar tiga tahun dia di Bandung. Dia memang aktif di kegiatan kemanusiaan,” katanya.
Rincian Peristiwa dan Imbauan
Kapal yang ditumpangi Angga, bernama Josef, merupakan bagian dari rombongan Global Sumud Flotilla.
Informasi dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyebutkan bahwa kapal tersebut dicegat oleh tentara Israel di perairan dekat Siprus setelah beberapa hari berlayar.
“Informasinya setelah beberapa hari berlayar mereka dicegat. Katanya ada delegasi Indonesia juga di dalam rombongan itu,” tutur Sutrawati.
Angga tercatat sebagai satu-satunya peserta asal Sulawesi Selatan dalam misi tersebut.
Sebagian besar relawan lain berasal dari Pulau Jawa.
Selain Angga, sejumlah WNI lain ikut serta, di antaranya jurnalis Thoudy Badai, Rahendro Herubowo, Andre Prasetyo Nugroho, dan Bambang Noroyono yang berada di kapal berbeda.
“Saya mohon kepada pemerintah, terutama Bapak Prabowo, tolong selamatkan anak saya. Dia bukan teroris, dia aktivis kemanusiaan,” kata Sutrawati dengan suara bergetar.
Ia menegaskan putranya hanya membawa bantuan kemanusiaan, bukan senjata.
Keluarga berharap pemerintah Indonesia segera mengambil langkah diplomatik untuk membebaskan para relawan.















