Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 12/06/2026 — Penguatan tata kelola pertambangan nikel di Indonesia dinilai penting untuk memastikan hilirisasi berjalan sesuai standar global dan tidak merusak lingkungan. Industri pertambangan Indonesia disebut sebagai salah satu yang terbesar secara global, sehingga komitmen pemerintah dalam mendorong hilirisasi nikel untuk transisi energi harus berkelanjutan.
- Indonesia punya industri pertambangan skala besar global
- Hilirisasi nikel untuk transisi energi perlu berkelanjutan
- Tantangan: iklim, sosial, masyarakat lokal, limbah
- Diperlukan pengelolaan limbah berkelanjutan standar global
- Standar Global Industry Standard on Tailings Management (GISTM) menjadi acuan
Urgensi Penguatan Tata Kelola Pertambangan Nikel
Director of Data & Research International Council on Mining and Metals, Emma Gagen, mengatakan industri pertambangan Indonesia memiliki ukuran dan skala operasi yang besar secara global. Ia menekankan komitmen pemerintah RI dalam mendorong hilirisasi nikel untuk mendukung transisi energi harus terus berlanjut.
Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi. Tantangan tersebut meliputi kondisi iklim, lingkungan sosial, masyarakat lokal, hingga pengelolaan limbah atau penyimpanan limbah.
Oleh karena itu, diperlukan penguatan tata kelola dalam pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Hal ini agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat dan lingkungan hidup.
Standar Global Menjadi Acuan
Emma Gagen menyebut pengelolaan limbah harus memenuhi standar global seperti Global Industry Standard on Tailings Management (GISTM). Standar ini menjadi acuan internasional untuk memastikan keamanan dan keberlanjutan lingkungan.
Penerapan standar tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko dampak negatif terhadap ekosistem dan masyarakat sekitar tambang. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong hilirisasi nikel yang berdaya saing global.
Komitmen Pemerintah dan Masa Depan Hilirisasi
Pemerintah Indonesia terus mendorong hilirisasi nikel sebagai bagian dari strategi transisi energi. Dengan skala operasi yang besar, komitmen ini harus diimbangi dengan tata kelola yang ketat.
Emma Gagen menambahkan bahwa keberlanjutan hilirisasi nikel sangat bergantung pada kemampuan mengelola dampak lingkungan dan sosial. Melalui standar global dan pengelolaan limbah yang baik, Indonesia dapat menjadi contoh pertambangan berkelanjutan.
Dialog ini menjadi pengingat bahwa hilirisasi nikel tidak hanya soal nilai tambah ekonomi, tetapi juga tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.









