Sulseltimes.com, Makassar, Jumat, 03/07/2026 — Inflasi tahunan Sulawesi Selatan pada Juni 2026 tercatat 3,56 persen, didorong kenaikan harga makanan, minuman, tembakau, dan emas perhiasan.
- Inflasi tahunan Sulsel Juni 2026 3,56 persen
- IHK 112,06
- Kelompok makanan minuman tembakau andil 1,77 persen
- Emas perhiasan andil 0,77 persen
- BPS Sulsel
Pemicu Inflasi Tahun Ini
Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan mencatat inflasi terjadi pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Hanya kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami deflasi 0,42 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar. Kelompok ini mencatat inflasi 5,69 persen dengan andil 1,77 persen.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tertinggi secara persentase, yakni 10,48 persen dengan andil 0,85 persen.
Komoditas Pendorong
Emas perhiasan memberikan andil inflasi tahunan terbesar sebesar 0,77 persen. Komoditas lain termasuk ikan layang, tomat, cabai rawit, daging ayam ras, bensin, sigaret kretek mesin, nasi dengan lauk, minyak goreng, beras, dan bawang merah.
Untuk inflasi bulanan Juni 2026, bensin menjadi pemicu utama dengan andil 0,11 persen. Komoditas lain seperti ikan layang, cabai merah, bawang merah, telepon seluler, angkutan udara, minyak goreng, pelumas, beras, dan tarif air minum PAM turut mendorong inflasi.
Inflasi di Seluruh Wilayah Sulsel
Seluruh delapan kabupaten dan kota yang menjadi cakupan IHK mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Luwu Timur mencatat inflasi tertinggi 4,32 persen, diikuti Sidenreng Rappang 4,30 persen, Wajo 3,80 persen, dan Watampone 3,76 persen.
Kota Makassar mencatat inflasi 3,56 persen, sama dengan tingkat provinsi. Inflasi terendah terjadi di Bulukumba dan Kota Parepare masing-masing 2,57 persen.
“Meski seluruh daerah mengalami kenaikan harga, terdapat variasi tingkat inflasi antarwilayah yang mencerminkan perbedaan dinamika harga komoditas,” kata Kepala BPS Sulsel Aryanto, Jumat, 03/07/2026.
Tren Inflasi Meningkat
Dibandingkan dua tahun sebelumnya, laju inflasi tahunan Sulsel meningkat. Juni 2024 tercatat 2,03 persen, Juni 2025 naik 2,24 persen, dan Juni 2026 naik 3,56 persen.
“Inflasi tahun kalender naik dari 0,83 persen pada 2024 menjadi 1,84 persen pada 2025 dan 2,54 persen pada 2026. Inflasi bulanan berubah dari deflasi 0,26 persen pada Juni 2024 dan deflasi 0,06 persen pada Juni 2025 menjadi inflasi 0,36 persen pada Juni 2026,” jelas Aryanto.
Sektor Lain yang Tertekan
Sektor transportasi mengalami inflasi tahunan 2,57 persen dengan andil 0,32 persen. Kenaikan dipicu harga bensin, pelumas, angkutan udara, sepeda motor, dan tarif ojek daring.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman (restoran) juga mengalami inflasi 3,10 persen dengan andil 0,24 persen. Komoditas seperti nasi dengan lauk, bakso, ayam goreng, kopi siap saji, dan martabak menjadi pendorong.
Tekanan inflasi di sektor pangan dan mobilitas menunjukkan konsumsi masyarakat masih menjadi faktor utama pembentuk inflasi Sulawesi Selatan pada Juni 2026.












