Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 30/08/2026 — Ekonomi global dinilai mampu menahan guncangan harga energi akibat konflik di Timur Tengah, namun IMF memperingatkan risiko lonjakan harga minyak dan tekanan fiskal tetap mengancam stabilitas.
- Ekonomi global tahan terhadap guncangan energi
- Harga Brent US$80-90 per barel
- IMF, Kristalina Georgieva
- Minggu, 30/08/2026, Jakarta
- Risiko inflasi dan tekanan fiskal tetap tinggi
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan penilaian itu dalam konferensi pers menjelang pertemuan menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara. Ia mengakui ketahanan ekonomi global melebihi perkiraan awal.
“Sejauh ini, ekonomi global telah melewati guncangan energi akibat penutupan Selat Hormuz lebih baik dari yang kami khawatirkan,” kata Georgieva, Minggu, 30/08/2026.
Ekonomi Global Bertahan di Tengah Tekanan
Georgieva menjelaskan pertumbuhan global tetap bertahan meski dihadapkan utang tinggi, inflasi melekat, dan ketegangan dagang. Faktor penopang meliputi pemanfaatan cadangan minyak dan gas, peningkatan pasokan dari luar Teluk, serta penurunan permintaan energi.
Perluasan kapasitas energi terbarukan dan pemanfaatan kembali pembangkit batu bara juga turut menopang. Di sisi lain, gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat menjaga kinerja laba korporasi dan belanja konsumen.
Tren investasi AI mulai merebak ke negara lain melalui pembangunan pusat data dan penguatan rantai pasok perangkat keras. IMF pada Juli lalu memangkas proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,0% dan akan merilis update baru di pertemuan tahunan Bangkok Oktober mendatang.
Guncangan Energi Belum Selesai
Georgieva mewanti-wanti agar para pembuat kebijakan tidak terlena meski harga Brent bertahan di kisaran US$80-90 per barel, jauh di bawah puncak US$118 sebelumnya. Lonjakan harga yang kembali berpotensi memicu inflasi baru dan memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan ketat.
Ia menyerukan negara-negara segera menyusun rencana fiskal kredibel untuk menjaga keberlanjutan utang dan defisit. Pernyataan ini muncul setelah imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi 19 tahun, mendorong Menteri Keuangan Scott Bessent memperluas program pembelian kembali obligasi jangka panjang.
Bank Sentral Harus Fokus Jaga Stabilitas Harga
Georgieva menegaskan bank sentral harus tetap fokus penuh pada mandat stabilitas harga meski kebijakan ketat berisiko melambatkan pertumbuhan. Ia juga menyoroti urgensi mengatasi ketimpangan ekonomi global yang memicu ketegangan dagang.
Tanpa menyebut nama, Georgieva mendorong perubahan model pertumbuhan yang lebih bergantung konsumsi domestik. IMF tengah menyempurnakan model penilaian neraca eksternal dan akan memperdalam analisis pemicu ketimpangan global dalam kajian mendatang.







