MarketBisnis

IHSG dan Rupiah Melemah pada Akhir Pekan

Avatar of Sulsel Times
0
×

IHSG dan Rupiah Melemah pada Akhir Pekan

Sebarkan artikel ini
IHSG dan Rupiah Melemah pada Akhir Pekan
IHSG dan Rupiah Melemah pada Akhir Pekan
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 25/07/2026 — IHSG dan rupiah ditutup melemah pada akhir pekan ini didorong sentimen negatif kenaikan harga minyak dan tarif impor AS.

Ringkasnya…
  • IHSG turun 1,88 persen ke level 6.196
  • Rupiah melemah ke Rp 17.963 per dolar AS
  • Phintraco Sekuritas dan PT Traze Andalan Futures
  • Perdagangan Jumat 24 Juli 2026
  • Tekanan defisit neraca dagang dan APBN
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

IHSG Anjlok ke Level 6.196

IHSG ditutup melemah 1,88 persen ke level 6.196.

Scroll Kebawah
Advertisement

Sebanyak 587 saham melemah sementara 104 saham menguat dan 105 stagnan.

Volume transaksi mencatat 37,9 miliar saham dengan nilai Rp 17,7 triliun.

Frekuensi transaksi tercatat 2,25 juta kali.

Penurunan terjadi setelah indeks sempat menembus level 6.400 secara intraday.

Sentimen negatif datang dari kenaikan harga minyak mentah yang memicu profit taking.

Kebijakan tarif impor 10 persen AS atas produk Indonesia juga membebani.

“Sentimen negatif dari kenaikan harga minyak mentah memicu profit taking,” kata Tim Riset Phintraco Sekuritas, Jumat, 24/07/2026.

Rupiah Melemah ke Rp 17.963 per Dolar

Nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp 17.963 per dolar AS.

Tarif impor baru diberlakukan setelah berakhirnya tarif sementara selama 150 hari.

Konflik Timur Tengah berpotensi memperlebar defisit neraca transaksi berjalan.

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan berlanjut di kuartal III 2026.

“Tarif baru diberlakukan setelah berakhirnya tarif sementara 150 hari,” kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, Jumat, 24/07/2026.

Harga Minyak di Atas Target APBN

Harga minyak mentah kembali meningkat di atas target APBN.

Pemerintah harus menambah dolar AS untuk menutupi defisit.

Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026.

Defisit ini pertama kali setelah surplus 72 bulan berturut-turut.

“Pemerintah harus menambah dolar untuk menutupi defisit akibat harga minyak di atas target APBN,” kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures, Jumat, 24/07/2026.

Pasar akan memantau perkembangan harga komoditas dan kebijakan perdagangan global.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *