Bisnis

HSBC Sebut 3 Kondisi Jelang Krisis 1997 Kini Muncul Kembali

Avatar of Sulsel Times
0
×

HSBC Sebut 3 Kondisi Jelang Krisis 1997 Kini Muncul Kembali

Sebarkan artikel ini
HSBC Sebut 3 Kondisi Jelang Krisis 1997 Kini Muncul Kembali
HSBC Sebut 3 Kondisi Jelang Krisis 1997 Kini Muncul Kembali
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 20/09/2026 — HSBC memperingatkan adanya tiga kemiripan kondisi ekonomi global yang menyerupai periode menjelang krisis keuangan Asia 1997.

Ringkasnya…
  • Yield obligasi AS melonjak tajam sebagaimana terjadi sebelum krisis 1997
  • Yen Jepang melemah lebih dari 50 persen dalam beberapa tahun terakhir
  • Euforia teknologi bergeser dari internet ke kecerdasan buatan atau AI
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Kepala Ekonom HSBC Frederick Neumann mengeluarkan peringatan tersebut dalam catatan yang menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat sebagai kemiripan utama dengan periode sebelum krisis 1997.

Scroll Kebawah
Advertisement

Pada 1993 hingga 1994, yield Treasury AS tenor 10 tahun meningkat dari sekitar 5 persen menjadi 8 persen. Saat ini, yield yang sama telah naik dari titik terendah sekitar 0,5 persen pada 2020 menjadi sekitar 4,79 persen, dengan kenaikan sekitar 80 basis poin sepanjang tahun ini.

Kemiripan kedua terlihat dari pergerakan yen Jepang. Pada April 1995, yen berada di level 80 per dolar AS dan melemah menjadi 130 pada April 1997, atau terdepresiasi sekitar 55 persen. Dalam periode sekarang, yen tercatat melemah 57 persen dari sekitar 103 per dolar AS pada Januari 2021 hingga mencapai 163 pada Juli, sebelum intervensi gabungan Washington dan Tokyo menguatkan mata uang tersebut ke sekitar 160.

Kemiripan ketiga berasal dari optimisme terhadap teknologi. Neumann melihat lonjakan industri kecerdasan buatan atau AI saat ini memiliki pola yang serupa dengan euforia internet yang menjadi sumber optimisme pasar menjelang krisis 1997.

Kondisi Asia Sekarang Berbeda Secara Fundamental

Meskipun demikian, Neumann menegaskan kondisi ekonomi Asia saat ini berbeda secara fundamental dibanding era 1990-an. Pada 1990-an, sebagian besar negara Asia merupakan importir modal dan rentan terhadap kenaikan biaya pendanaan dolar AS serta volatilitas yen.

“Ekonomi Asia saat ini merupakan eksportir modal,” kata Neumann. Karena itu, kenaikan biaya pendanaan AS dan pelemahan yen tidak menjadi sumber tekanan utama seperti pada era 1990-an.

Kerentanan Baru Berupa Ketergantungan Permintaan AI

Asia tetap memiliki kerentanan, terutama ketergantungan terhadap permintaan perangkat keras AI di AS. Neumann memperingatkan bahwa perlambatan lonjakan AI dapat menekan ekspor elektronik Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura serta memperlambat pertumbuhan ekonomi kawasan.

“Alih-alih kerentanan finansial seperti pada tahun 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan,” ujar Neumann.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *