Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 19/09/2026 — Tuyul tidak mencuri uang di bank karena tidak ada bukti nyata dan penjelasannya terkait ketimpangan ekonomi kolonial Belanda.
- Tuyul adalah makhluk halus Jawa kecil dan botak yang dipercaya mencuri uang untuk tuannya
- Tidak ada kasus tercatat bank kehilangan uang akibat pencurian tuyul
- Penjelasan ilmiah menyangkut liberalisasi ekonomi Belanda 1870 yang memperbesar kesenjangan ekonomi di Jawa
- Petani subsistence melihat kekayaan baru pedagang sebagai hasil kerja sama dengan makhluk halus seperti tuyul
- Para ahli seperti Suwardi Endraswara, van Zanden & Marks, Ong Hok Ham, dan Quinn menyoroti asal mito tuyul sebagai respons sosial ketidakadilan
Menurut Budayawan Suwardi Endraswara dalam Dunia Hantu Orang Jawa (2004), tuyul dilakukan dari rumah ke rumah dan pekerjaannya tidak hanya sebatas mencuri uang, tetapi juga mencari barang dan surat-surat berharga.
Sejak saat itu, belum pernah ditemukan kasus bank yang melaporkan hilangnya uang karena dipercaya disebabkan oleh tuyul.
Akar mito tuyul dalam ketimpangan ekonomi kolonial
Menurut Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), liberalisasi ekonomi Belanda tahun 1870 mengganti sistem tanam paksa dan melahirkan rezim kolonial baru yang mengalihkan lahan rakyat menjadi perkebunan besar dan pabrik gula.
Kebijakan itu menjadikan masyarakat petani Jawa semakin terperosok ke dalam kemiskinan karena mereka kehilangan kuasa atas lahan perkebunan.
Di sisi lain, pedagang pribumi dan Tionghoa yang memperoleh kesuburan ekonomi dari sistem ini dianggap oleh petani sebagai memperoleh kekayaan dengan cara yang tidak terlihat.
Petani yang menjalani sistem subsisten menilai bahwa peningkatan kekayaan harus melalui usaha yang jelas dan dapat dilihat oleh orang lain.
Masyarakat Jawa membangun tuyul sebagai penjelasan kekayaan tiba-tiba
Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang (2019) menjelaskan bahwa petani tidak melihat kerja keras dari orang kaya baru, sehingga timbul kecurigaan bahwa kekayaan itu berasal dari kerja sama dengan makhluk halus.
George Quinn dalam An Excursion to Java’s Get Rich Quick Tree (2009) menambahkan bahwa petani percaya datangnya kekayaan harus dipertanggungjawabkan, dan ketika tidak dapat dijelaskan, mereka menuduh hasilnya merupakan pencurian oleh makhluk seperti tuyul.
Ini menyebabkan tuyul menjadi subjek mistis yang semakin populer sebagai penjelasan bagi ketidakadilan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat petani.
Hingga kini, tidak ada bukti empiris yang menunjukkan tuyul berhasil menyerang bank atau mengambil saldo e-money, dan mito ini tetap hidup sebagai refleksi sosial terhadap ketidaksetaraan kekayaan.









