Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 22/08/2026 — Jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia terus menyusut berdasarkan data BPS, sementara pakar keuangan menguraikan indikator pencapaian kelas menengah atas mulai dari sisa dana hingga kepemilikan aset beragam.
- Jumlah kelas menengah turun 9,48 juta jiwa periode 2019-2024
- BPS catat kelas menengah tersisa 47,85 juta jiwa pada 2024
- Pakar keuangan Nicole Nicolet dan Rose sebut ciri kelas menengah atas
- Definisi meliputi sisa dana, aset beragam, hingga pensiun dini
- Dampak: kebebasan finansial dan stres minimal
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kelas menengah pada 2019 mencapai 57,33 juta orang atau 21,45% total penduduk. Angka itu turun menjadi 47,85 juta orang atau 17,13% pada 2024. Penurunan itu berarti 9,48 juta warga kelas menengah turun ke level ekonomi di bawahnya.
Pemilik Let’s Make Life Great, Nicole Nicolet, menjelaskan kelas menengah mampu memiliki rumah, liburan tahunan, dan investasi pendidikan anak. Kelas menengah atas hingegen menikmati lebih banyak liburan dan hidup lebih nyaman serta berpotensi pensiun lebih cepat, kata dia, Sabtu, 22/08/2026.
Pakar keuangan Rose menambahkan kelas menengah atas memiliki ruang anggaran untuk hiburan rutin dan keamanan finansial yang kuat, kata dia, Sabtu, 22/08/2026. Berikut ciri-ciri utama menurut pakar keuangan dan Go Banking Rates.
Memiliki Sisa Dana Setelah Investasi dan Pengeluaran Besar
Orang kelas menengah atas sering memiliki dana sisa bahkan setelah memaksimalkan kontribusi pensiun dan menutupi pengeluaran utama. Mereka tidak terlalu khawatir menggunakan dana tambahan karena fondasi keuangan yang kokoh.
Kepemilikan Aset Beragam Bukan Hanya Uang Tunai
Portofolio mereka umumnya mencakup saham dan properti sewaan. Melunasi hipotek lebih awal bisa jadi tanda kelas menengah atas, meski tidak wajib. Kemampuan menutupi investasi besar tanpa mengganggu gaya hidup jadi indikator kunci.
Tinggal di Lingkungan dengan Nilai Properti Tinggi
Lokasi tempat tinggal di kode pos yang diminati menjadi tanda kuat. Namun, orang kelas menengah atas biasanya tidak merasa perlu membandingkan kekayaan atau status dengan tetangga.
Stres Finansial Minimal Menghadapi Kejutan
Darurat finansial dapat ditangani tanpa kepanikan. Ketenangan ini memungkinkan mereka menikmati kehidupan dengan lebih tenang dibandingkan kelompok ekonomi di bawahnya.
Perubahan Gaya Hidup Positif Tanpa Hidup di Luar Kemampuan
Pendapatan dan kekayaan bersih signifikan membawa akses pada barang atau layanan yang dulunya dianggap mewah. Hampir tidak ada batasan gaya hidup meski belum mencapai taraf miliarder.
Mampu Membiayai Pendidikan Tinggi Tanpa Utang
Biaya pendidikan terbaik untuk diri sendiri atau anak dapat ditanggung tanpa pinjaman. Ini menandakan posisi keuangan yang sangat solid.
Peluang Pensiun Dini Lebih Terbuka
Investasi beragam, pendapatan pasif, dan keamanan finansial membuat pensiun dini menjadi pilihan realistis. Kebebasan memilih kapan berhenti bekerja menjadi keuntungan utama.
Memiliki Sumber Pendapatan Ganda
Berbeda dengan kelas menengah atau bawah yang bergantung pada satu gaji, kelas menengah atas hampir selalu memiliki dua atau lebih sumber pendapatan. Ini bisa berasal dari bisnis, dividen saham, atau sewa properti yang memperkuat posisi finansial.
Penurunan jumlah kelas menengah menunjukkan tekanan ekonomi struktural. Pemahaman ciri-ciri kelas menengah atas menjadi tolok ukur kesehatan finansial pribadi di tengah ketidakpastian.









