Sulseltimes.com, Lombok, Selasa, 24/06/2026 — Rencana konten kreator Panji Petualang bersama Agam Rinjani untuk kembali ke Gunung Rinjani ditolak oleh warga dan komunitas lokal. Panji kemudian meminta maaf dan membatalkan liputan khusus yang akan dibuat.
- Penolakan dari masyarakat Sasak dan relawan
- Rencana liputan peringatan evakuasi pendaki Brasil
- Kekhawatiran narasi yang terlalu berfokus pada Agam
- Persoalan gelar dan transparansi konten
- Panji Petualang minta maaf dan batalkan liputan
Penolakan dari Masyarakat Sekitar Rinjani
Sejumlah kelompok masyarakat Sasak, relawan lokal, pelaku wisata, dan komunitas pendaki menyampaikan keberatan atas kedatangan Panji Petualang dan Agam Rinjani.
Mereka menilai narasi yang berkembang selama ini terlalu berfokus kepada Agam Rinjani sebagai sosok utama dalam operasi penyelamatan.
Padahal, proses evakuasi Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang jatuh ke jurang pada 2025, melibatkan banyak pihak. Mulai dari relawan, porter, pemandu, hingga tim SAR gabungan.
Selain itu, sejumlah pihak juga menyoroti penggunaan gelar tertentu dan persoalan transparansi narasi dalam konten yang akan dibuat.
Hal tersebut menjadi salah satu pemicu munculnya protes dari masyarakat sekitar kawasan Rinjani.
Permintaan Maaf Panji Petualang
Melihat polemik yang semakin berkembang, Panji Petualang akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat Sasak dan para relawan Rinjani.
Ia juga memutuskan untuk membatalkan rencana liputan khusus tersebut agar tidak memperkeruh keadaan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa di balik sebuah kisah kepahlawanan, terdapat banyak orang yang turut berjuang dan memiliki kontribusi besar.
Masyarakat berharap penghargaan terhadap operasi kemanusiaan di Gunung Rinjani dapat diberikan secara adil kepada seluruh pihak yang terlibat.















