Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 26/08/2026 — CIMB Niaga memproyeksikan BI Rate naik sekali lagi tahun ini mendekati puncak sehingga menciptakan momentum mengunci imbal hasil obligasi.
- BI Rate diproyeksikan naik sekali lagi mendekati puncak
- Yield obligasi pemerintah kuartal II 7,16% proyeksi CIMB Niaga 7,5%
- Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah Head WM Business Development & Market Research CIMB Niaga
- Rabu 26/08/2026 di Jakarta
- Peluang mengunci imbal hasil sebelum siklus suku bunga berbalik
PT Bank CIMB Niaga Tbk memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate masih akan naik sekali lagi pada tahun ini. Kenaikan tersebut diperkirakan mendekati titik puncak.
Menurut Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga kondisi ini menjadi momentum bagi investor untuk mengunci imbal hasil obligasi di level relatif tinggi. “Karena BI Rate ini masih berpeluang naik namun dengan tendensi yang melambat. Artinya imbal hasil obligasi itu sudah mulai berada di puncak” kata Lanjar Rabu 26/08/2026.
Ia memproyeksikan pada tahun berikutnya suku bunga tidak lagi mengalami kenaikan signifikan. Hal itu membuka kesempatan bagi investor baru untuk memanfaatkan yield yang masih tinggi.
“Kalau imbal hasilnya tinggi itu kesempatan kita yang baru mau investasi di obligasi itu sangat menarik” katanya.
Peluang Yield Obligasi Jangka Panjang dan Pendek
Lanjar menyebut imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia pada kuartal II berada di level 7,16 persen. CIMB Niaga memproyeksikan yield dapat mencapai 7,5 persen dengan asumsi konservatif.
Sebagai ilustrasi instrumen FR100 menawarkan yield to maturity sekitar 7 persen hingga 7,1 persen. Obligasi tenor lima tahun memiliki yield kisaran 6,7 persen hingga 6,8 persen.
“Kalau kita mau investasi di FR100 yield to maturity imbal hasil obligasinya masih sekitar 7% sampai 7,1%-an masih dapat atau kita mau investasi di tenor-tenor yang lima tahun itu masih sekitar 6,7%-6,8%” ujarnya.
Kondisi fase kenaikan suku bunga memberikan peluang mengunci imbal hasil sebelum siklus berbalik. “Karena ekonomi saat ini sedang menghadapi fase kenaikan BI Rate sehingga itu saat yang tepat untuk mengunci imbal hasil kita” tutur Lanjar.
Risiko Harga Obligasi dan Nilai Tukar
Kenaikan yield perlu menjadi perhatian bagi investor yang sudah memegang obligasi. Terdapat hubungan terbalik antara yield dan harga obligasi. Ketika yield meningkat harga obligasi akan mengalami tekanan.
“Kalau imbal hasil naik harga obligasi turun. Di saat imbal hasil naik tinggi-tingginya harga obligasi turun itulah timing yang tepat untuk kita lock imbal hasil di obligasi” jelasnya.
Dengan demikian investor yang membeli obligasi pada saat yield tinggi berpotensi memperoleh keuntungan ketika siklus suku bunga nantinya mulai berbalik dan yield turun. Penurunan yield tersebut secara teori akan mendorong kenaikan harga obligasi.
Di sisi lain Lanjar mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan risiko nilai tukar. Rupiah diperkirakan masih menghadapi volatilitas akibat faktor eksternal termasuk potensi capital outflow dan ketidakpastian geopolitik.
Konsensus Bloomberg memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di sekitar Rp17.800 per dolar AS. Sementara CIMB Niaga memiliki proyeksi yang lebih konservatif di Rp18.300 per dolar AS.
Oleh karena itu selain mengoptimalkan pasar obligasi investor disarankan melakukan mitigasi risiko nilai tukar melalui diversifikasi aset yang tidak berdenominasi rupiah.
“Mulailah investasi ke nilai tukar yang tidak berdenominasi rupiah bisa reksa dana global syariah atau reksa dana pendapatan tetap yang US dolar” kata Lanjar.
Dengan prospek BI Rate yang dinilai mulai mendekati puncak periode suku bunga tinggi dapat menjadi kesempatan bagi investor untuk mengunci yield obligasi sebelum arah kebijakan moneter berubah.














