Bisnis

Rusdi Kirana Bangun Kekuasaan Lion Air Group Bermula dari Calo Tiket

Avatar of Sulsel Times
0
×

Rusdi Kirana Bangun Kekuasaan Lion Air Group Bermula dari Calo Tiket

Sebarkan artikel ini
Rusdi Kirana Bangun Kekuasaan Lion Air Group Bermula dari Calo Tiket
Rusdi Kirana Bangun Kekuasaan Lion Air Group Bermula dari Calo Tiket
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 22/08/2026 — Rusdi Kirana membangun kekuasaan maskapai Lion Air Group bermula dari pengalaman sebagai calo tiket di Bandara Soekarno-Hatta.

Ringkasnya…
  • Rusdi Kirana mendirikan Lion Air Group bermula dari calo tiket
  • Lion Air melayani 36,8 juta penumpang pada 2018 menguasai 35% pasar domestik
  • Grup Lion Air menguasai Wings Air, Batik Air, hingga Super Air Jet
  • Kekayaan Rusdi Kirana tercatat US$ 835 juta versi Forbes 2022
  • Maskapai dikenal murah tapi sering keterlambatan
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Sebelum tahun 2000, bepergian dengan pesawat terbang hanya terjangkau kalangan kaya. Kondisi itu memicu keinginan Rusdi Kirana untuk menghadirkan penerbangan murah bagi semua lapisan masyarakat.

Scroll Kebawah
Advertisement

Ide tersebut muncul saat Rusdi masih berkuliah di Universitas Pancasila sambil bekerja sampingan sebagai calo tiket di Bandara Soekarno-Hatta. Pengalaman di bandara memberinya pemahaman mendalam tentang seluk-beluk bisnis penerbangan serta modal untuk mengembangkan usaha sendiri.

Awal Mula dari Biro Perjalanan Lion Tour

Pada tahun 1990-an, Rusdi bersama saudaranya, Kusnan Kirana, mendirikan biro perjalanan bernama Lion Tour. Nama “Lion” dipilih karena keduanya berzodiak Leo. Melalui bisnis ini mereka mulai melebarkan sayap di industri transportasi udara.

Berdasarkan catatan majalah Warta Ekonomi, bisnis biro perjalanan dijalani selama 13 tahun sebelum berkembang pesat pada 1999. Tahun itu pemerintah memperbolehkan pendirian maskapai swasta baru.

Lahirnya Lion Air dan Revolusi Harga

Duo Kirana mendirikan Lion Air bermodalkan dua pesawat sewaan. Maskapai baru mulai beroperasi pada 1999. Rute perdana Jakarta-Pontianak dibanderol Rp 300 ribu, jauh di bawah kompetitor yang mematok Rp 1,1 juta. Rute Jakarta-Manado yang biasanya Rp 2,1 juta dibuat Rp 400 ribu.

Strategi harga rendah itu membuat Lion Air cepat diminati masyarakat. Pada 2004, Lion Air sudah mengoperasikan 23 pesawat dengan 130 penerbangan harian melayani rute domestik hingga Singapura, Malaysia, dan Vietnam.

Ekspansi Menjadi Grup Maskapai Terbesar

Sebelum pandemi, Lion Air mendominasi Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. Grup ini menguasai Wings Air, Batik Air, Lion Bizjet, Malindo Air di Malaysia, dan Thai Lion Air di Thailand.

Jargon “We Make People Fly” menempel sebagai identitas maskapai berbiaya rendah terbesar. Pada 2018, Lion Air mencatatkan 36,8 juta penumpang atau menguasai 35 persen pangsa pasar penerbangan domestik.

Super Air Jet Hadir di Tengah Pandemi

Kini grup tersebut meluncurkan maskapai baru, Super Air Jet, tepat saat pandemi melanda dan banyak maskapai mandeg. Penerbangan perdana melayani rute Jakarta-Kualanamu dan Jakarta-Batam dengan konsep low cost carrier point-to-point domestik, serta berencana perluas ke rute internasional.

Posisi Kekayaan dan Tantangan Keterlambatan

Kesuksesan bisnis mencerminkan posisi kekayaan Rusdi Kirana. Pada 2017, ia menempati urutan ke-33 orang terkaya Indonesia versi Forbes dengan kekayaan US$ 970 juta. Pada 2022, posisinya bergeser ke urutan ke-38 dengan kekayaan US$ 835 juta.

Di balik kesuksesan harga terjangkau, Lion Air dikenal memiliki tantangan keterlambatan jadwal yang menjadi biaya mahal bagi penumpang hingga kini.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *