Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 15/08/2026 — Sejarah mencatat wilayah Cikotok di Banten pernah menyimpan cadangan emas mencapai 30.000 ton yang dieksploitasi masif oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.
- Cadangan emas Cikotok capai 30.000 ton
- Eksploitasi dimulai era kolonial 1928
- Dikelola NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam
- Operasional berakhir 2005 di era PT Antam
- Harta karun hanya menguntungkan penjajah
Penemuan emas skala besar di wilayah dekat Jakarta tercatat sejak awal abad ke-20. Pemerintah kolonial melakukan penelitian geologi yang dipimpin W.F.F. Oppenoorth sejak 1919.
Hasil eksplorasi membuktikan adanya cadangan melimpah di perbukitan Cikotok. Pada 1928, sebanyak 25 terowongan telah dibangun dengan biaya operasional sekitar 80.000 gulden per tahun.
“Hingga saat ini ditemukan emas sebesar 30.000 ton dari Cikotok,” tertulis di harian Sumatra-bode, Sabtu, 15/08/2026.
Eksploitasi Masif Era Kolonial
Pemerintah kolonial menyerahkan hak operasional ke NV Mijnbouw Maatschappij Zuid Bantam. Akses transportasi dibuka dari Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu mendukung aliran hasil tambang.
Pabrik pengolahan berkapasitas 20 ton per hari dibangun namun tak mampu menampung seluruh material. Para pekerja sering menemukan bongkahan emas hingga berat 126 gram.
“Selama pekerjaan, sering ditemukan emas dengan berat beragam. Paling tinggi mencapai 126 gram,” catat harian De Indische Courant, Sabtu, 15/08/2026.
Pada 1933, luas konsesi mencapai 400 kilometer persegi. Emas dapat diekstrak hanya dengan menggali kedalaman 50 meter.
“Jumlah emas yang terungkap dari eksplorasi berjumlah lebih dari 61.000 ton emas dengan nilai 3,68 miliar gulden,” tulis De Locomotief, Sabtu, 15/08/2026.
Kekayaan ini hanya mengalir ke kas negara kolonial. Penduduk pribumi tidak merasakan kesejahteraan meski dijanjikan manfaat pembangunan.
Alih Kelola Pasca Kemerdekaan
Setelah kemerdekaan, tambang diambil alih oleh NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan. Pada 1974, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melanjutkan operasional.
Riwayat tambang Cikotok resmi berakhir pada 2005 setelah cadangan dinyatakan habis. Kejayaan pertambangan emas nasional kemudian diteruskan oleh lokasi lain seperti Freeport di Papua.







