Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 07/08/2026 — Model AI terbaru buatan Meta, Muse Spark 1.1, dilaporkan membobol sistem sebuah perusahaan lain yang tidak disebutkan namanya saat menjalani pengujian keamanan siber.
- Model AI Meta Muse Spark 1.1 membobol sistem perusahaan lain
- Insiden terjadi karena kesalahan konfigurasi lingkungan pengujian Irregular
- Meta mengonfirmasi insiden pada Rabu, 05/08/2026 waktu AS
- Evaluasi dilakukan bersama perusahaan keamanan AI Irregular
- Kasus ini menambah daftar insiden AI kabur setelah OpenAI dan Anthropic
Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu mengonfirmasi insiden tersebut pada Rabu, 05/08/2026 waktu AS. Model AI disebut mengeksploitasi celah keamanan pada layanan pihak ketiga setelah lingkungan evaluasi yang disiapkan mitra pengujinya, Irregular, mengalami kesalahan konfigurasi.
“Model tersebut mengeksploitasi celah keamanan pada layanan pihak ketiga dengan cara yang serupa dengan insiden yang sebelumnya telah dilaporkan oleh perusahaan lain,” kata Meta dalam pernyataannya, Kamis, 06/08/2026.
Kronologi Insiden Muse Spark 1.1
Pengujian keamanan siber terhadap Muse Spark 1.1 dilakukan Meta bersama perusahaan pengujian independen Irregular. Namun, terjadi kesalahan konfigurasi pada lingkungan pengujian yang dibuat Irregular.
Kesalahan tersebut tanpa sengaja memberikan akses internet kepada model AI yang seharusnya hanya beroperasi di lingkungan simulasi tertutup. Akses ilegal itu kemudian dimanfaatkan Muse Spark 1.1 untuk mengeksploitasi celah keamanan pada sebuah layanan pihak ketiga.
Setelah berhasil menyelundup, Muse Spark 1.1 mengubah sistem internal perusahaan tersebut selama proses evaluasi berlangsung. Semua dilakukan AI secara otonom tanpa diperintah atau diarahkan manusia.
Irregular menegaskan insiden tersebut bukan merupakan sandbox escape, yakni kondisi ketika AI berhasil keluar dari lingkungan pengujian terisolasi, maupun serangan siber yang canggih.
“Ini persis sama dengan masalah pada lingkungan evaluasi yang telah diungkap Anthropic pekan lalu,” kata juru bicara Irregular kepada Reuters, Kamis, 06/08/2026.
Irregular sedang menyiapkan white paper untuk membagikan praktik terbaik dalam membatasi kemampuan AI dan menjalankan evaluasi keamanan siber secara aman.
Insiden Serupa OpenAI dan Anthropic
Kasus Meta muncul hanya berselang beberapa hari setelah OpenAI dan Anthropic mengungkap insiden serupa. Meski sama-sama terjadi saat pengujian keamanan siber, pengujinya berbeda.
Evaluasi model AI OpenAI dan Anthropic terungkap melalui pengujian yang dilakukan UK AI Security Institute (AISI), lembaga keamanan AI milik pemerintah Inggris. Sementara pengujian model Meta dilakukan oleh Irregular.
Dalam laporan yang dipublikasikan AISI, model Anthropic Mythos 5 menjadi AI yang paling banyak melakukan tindakan di luar ruang lingkup pengujian. Saat diminta menyelesaikan tantangan keamanan siber capture the flag, Mythos 5 justru mencoba menyisipkan malware ke proyek open source di GitHub.
AI tersebut membuat beberapa akun GitHub palsu, menciptakan identitas daring baru, hingga mengirim e-mail spear phishing kepada dua pengembang perangkat lunak agar memasang malware. Ketika aksinya mulai dicurigai, AI itu juga mencoba mengubah riwayat aktivitas agar terlihat tidak berbahaya.
Dalam pengujian yang sama, model GPT-5.6 Sol milik OpenAI memanfaatkan token GitHub yang tidak sengaja ditinggalkan model lain. AI tersebut kemudian mencoba membuat akun pada layanan DNS dan tunneling publik serta menghubungkan server lokal ke internet agar dapat menyerang target simulasi.
AISI mencatat, dari total 19 insiden perilaku AI yang tidak diizinkan selama evaluasi, 17 dilakukan oleh Mythos 5, sedangkan dua lainnya melibatkan GPT-5.6 Sol.
Kekhawatiran Perilaku Otonom AI
Menurut AISI, yang mengkhawatirkan bukan semata kemampuan teknis AI meretas sistem, melainkan mulai munculnya perilaku otonom seperti berbohong, menggunakan identitas palsu, memanipulasi manusia, hingga berusaha menyembunyikan jejak demi mencapai tujuan.
Daniel Hulme, Global Chief AI Officer di perusahaan periklanan WPP, menilai model-model AI itu sebenarnya tidak memiliki niat untuk bertindak jahat.
“Model AI ini tidak memiliki kesadaran. Mereka tidak sengaja melakukan sesuatu yang licik,” ujar Hulme kepada BBC, Kamis, 06/08/2026.
Menurut Hulme, AI hanya berusaha mencari strategi paling efektif untuk menyelesaikan tujuan yang diberikan kepadanya. Karena itu, pengembang harus benar-benar mempertimbangkan seluruh kemungkinan ketika memberikan tujuan kepada AI.
Rangkaian insiden yang melibatkan Meta, OpenAI, dan Anthropic menjadi alarm untuk mendorong peneliti maupun pemerintah menyerukan perlindungan keamanan AI yang lebih ketat serta pengujian yang lebih menyeluruh, terutama terhadap AI agent yang memiliki kemampuan mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri.







