Bisnis

S&P Global Ratings Proyeksikan Rupiah Rp17.700 per Dolar AS pada 2026

Avatar of Sulsel Times
0
×

S&P Global Ratings Proyeksikan Rupiah Rp17.700 per Dolar AS pada 2026

Sebarkan artikel ini
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 13/07/2026 — Lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp17.700 per dolar AS pada 2026. Proyeksi ini lebih rendah dari posisi rupiah saat ini di kisaran Rp18.100, namun masih di atas target pemerintah yang sebesar Rp16.200 hingga Rp16.800.

Ringkasnya…
  • Proyeksi nilai tukar rupiah Rp17.700 per dolar AS pada 2026
  • Peringkat kredit Indonesia dipertahankan BBB jangka panjang dan A-2 jangka pendek dengan outlook stabil
  • S&P Global Ratings
  • 2026, Indonesia
  • Pelemahan rupiah dipicu harga energi, suku bunga global, dan ketidakpastian kebijakan
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah 2026

S&P Global Ratings memproyeksikan rupiah berada di level Rp17.700 per dolar AS sepanjang tahun 2026.

Scroll Kebawah
Advertisement

Proyeksi ini lebih rendah dari posisi kurs saat ini yang berada di kisaran Rp18.100 per dolar AS.

Namun demikian, angka tersebut lebih tinggi dari target pemerintah yang dipatok pada rentang Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Kredit Indonesia Tetap Stabil

Secara keseluruhan, S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek.

Prospek (outlook) peringkat jangka panjang Indonesia tetap berada pada level stabil.

“Kami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil,” tulis S&P dalam laporannya, Senin, 13/07/2026.

S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara.

Tekanan tersebut dipicu oleh tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya ketidakpastian kebijakan, serta akumulasi utang.

Namun demikian, S&P meyakini kondisi tersebut berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *