MarketEkonomi

IHSG Tertekan, Danantara Sebut Bukan Hanya karena MSCI

Avatar of Sulsel Times
17
×

IHSG Tertekan, Danantara Sebut Bukan Hanya karena MSCI

Sebarkan artikel ini
IHSG Tertekan, Danantara Sebut Bukan Hanya karena MSCI
IHSG Tertekan, Danantara Sebut Bukan Hanya karena MSCI, doc ist.
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, 12/05/2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada di zona merah. Investor asing cenderung wait and see menjelang penyesuaian MSCI, namun Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menilai ada faktor lain yang lebih mendasar.

Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir mengatakan daya tarik investasi pasar modal Indonesia saat ini menurun. Ia menyebut perlunya transformasi dari sektor tradisional seperti bank dan tambang menuju industri teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Ringkasnya…
  • IHSG sulit bangkit dari zona merah
  • Investor asing wait and see jelang MSCI
  • Danantara sebut ada faktor lain selain MSCI
  • Pandu Sjahrir mendorong inovasi teknologi/AI
  • Fundamental pasar modal perlu cerita pertumbuhan baru
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Faktor Lain Penekan IHSG Menurut Danantara

Pandu Sjahrir berpendapat, persoalan MSCI sudah relatif teratasi oleh regulator. “Jadi, bisa dibilang ini soal MSCI. Menurut saya, masalah MSCI sudah relatif teratasi. Mungkin ini soal kreativitas,” ujarnya di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa, 12/05/2026.

Ia mencontohkan bursa Taiwan dan Korea yang tumbuh berkat perusahaan teknologi seperti TSMC dan fokus pada AI. “Kenapa? Karena the story today di dunia itu hanyalah soal AI. Malah sekarang bukan lagi soal Artificial Intelligence, sekarang sudah mulai ngomong soal General Intelligence atau AGI,” ungkapnya.

Menurut Pandu, bursa terbaik di Asia saat ini hanya Taiwan dan Korea. “Di Taiwan ada satu perusahaan TSMC, satu perusahaan TSMC market capnya lebih besar dari seluruh Asia Tenggara. Itu Taiwan. Korea year to date kurang lebih 80% karena has to do with AI,” imbuhnya.

Perlunya Cerita Pertumbuhan Baru bagi Pasar Modal Indonesia

Pandu menyayangkan fundamental pasar modal Indonesia yang masih didominasi industri tradisional. “Belum ada satupun yang mengikuti trend AI. Padahal untuk AI berkembang seharusnya business energy yang mengikuti itu,” katanya.

Dari sisi saham perbankan, ia mengakui masih mencatat pertumbuhan. Namun, perlu penyegaran dan inovasi baru agar tidak tertinggal. “Dari 15 tahun terakhir, I think banks you can hold 10-11 hari ini saya cek mandiri 11% dividend yield. I don’t think it’s ever touch that low. Jadi anda bayangin kalau sebagai seorang investor ini pasti sangat murah. Tapi what’s the growth story? who is the next TSMC disini? Who can actually capitalize energy menjadi AI?” tutupnya.

Dengan kondisi IHSG yang turun year to date sekitar 20%, Danantara mendorong pelaku pasar untuk menghadirkan emiten berbasis teknologi dan AI agar daya tarik investasi meningkat.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *