Sulseltimes.com, Makassar, Senin, 28 September 2026 — Studi terhadap 1,25 miliar lowongan kerja dan 154 juta catatan ketenagakerjaan di 41 negara menemukan perusahaan yang mengadopsi AI cenderung menambah pekerja senior, sementara porsi pekerja junior menurun.
- Studi menganalisis 1,25 miliar lowongan kerja dan 154 juta catatan ketenagakerjaan
- Pekerjaan senior di perusahaan pengadopsi AI meningkat sekitar 6,7 persen
- Pekerjaan junior diperkirakan turun sekitar 2,5 persen
- Porsi pekerja junior turun sekitar 1,9 poin persentase
- Peneliti menilai pertumbuhan total pekerjaan masih menunjukkan sinyal positif tetapi efeknya berbeda menurut senioritas
Working paper tersebut disusun Bharat Chandar dari Stanford Digital Economy Lab dan Bouke Klein Teeselink dari King’s College London.
Penelitian membandingkan perubahan tenaga kerja pada perusahaan yang mengadopsi AI dengan kelompok pembanding di berbagai negara.
Hasilnya menunjukkan pekerjaan senior meningkat sekitar 6,7 persen setelah adopsi AI.
Sementara itu, pekerjaan junior diperkirakan turun sekitar 2,5 persen dan porsi pekerja junior dalam perusahaan berkurang sekitar 1,9 poin persentase.
Adopsi AI Mengubah Komposisi Tenaga Kerja
Peneliti tidak menyimpulkan bahwa AI langsung menghapus pekerjaan secara luas.
Temuan justru menunjukkan perubahan komposisi tenaga kerja, dengan pertumbuhan yang lebih kuat pada posisi senior dibanding posisi junior.
Total pekerjaan pada perusahaan pengadopsi AI diperkirakan meningkat sekitar 3,3 persen, tetapi peneliti menyebut bukti pertumbuhan keseluruhan tersebut masih bersifat sugestif.
Perubahan juga terlihat pada jenis pekerjaan yang memiliki paparan tinggi terhadap AI.
Temuan Masih Perlu Dibaca sebagai Working Paper
Studi menggunakan data periode 2021 hingga Maret 2026 dan mencakup 41 negara.
Peneliti mengukur adopsi AI dari lowongan pekerjaan yang menunjukkan penggunaan kecerdasan buatan generatif.
Karena penelitian masih berupa working paper, hasilnya perlu dibaca sebagai temuan akademik yang dapat terus diperbarui seiring tambahan data dan pengujian metodologi.
Temuan ini memberi sinyal bahwa perusahaan yang memakai AI dapat lebih membutuhkan pengalaman dan kemampuan pengambilan keputusan, sementara jalur masuk bagi pekerja junior berpotensi mengalami tekanan.






