Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 31/10/2026 —
Dalam krisis moneter 1997-1998, seorang anak presiden memicu gerakan moral hingga masyarakat luas untuk melepas dolar demi memperkuat rupiah.
- Gerakan Cinta Rupiah (Getar) digagas Mbak Tutut pada Januari 1998
- Mbak Tutut menukarkan US$50 ribu pribadi ke rupiah
- Total valas terkumpul hanya sekitar US$5 juta
- Dolar AS tetap melemah hingga Rp16.000 per dolar
- Gerakan tidak cukup menyeimbangkan kekuatan pasar global
Gerakan Cinta Rupiah Digerakkan Saat Krisis Panjang
Krisis moneter periode 1997-1998 mencatatkan sejarah sebagai salah satu babak paling kelam bagi perekonomian Indonesia. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terhempas bebas dari kisaran stabil Rp2.000, lalu ambruk ke level Rp10.000, hingga sempat menyentuh rekor terendah Rp16.000 per Dolar AS.
Di tengah kepanikan pasar dan ancaman kebangkrutan nasional, muncul gerakan moral dari kalangan elite hingga masyarakat luas untuk mendorong penggunaan mata uang Garuda sekaligus memotong ketergantungan pada Dolar AS.
Saluran aksi paling fenomenal digagas oleh putri sulung Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau yang akrab disapa Mbak Tutut.
Berdasarkan catatan sejarawan Jan Luiten van Zanden dalam buku Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), kejatuhan Rupiah bermula dari efek domino depresiasi mata uang Baht Thailand pada pertengahan 1997. Badai tersebut dengan cepat merembet dan melumat mata uang negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Menanggapi gejolak yang semakin liar, Mbak Tutut pada Januari 1998 menginisiasi Gerakan Cinta Rupiah (Getar). Misi utamanya terbilang lugas: mengimbau masyarakat melepas simpanan Dolar AS mereka guna membantu Bank Indonesia memperkuat otot Rupiah sekaligus mengembalikan kepercayaan pasar.
“Gerakan Cinta Rupiah (Getar) yang dipelopori Ny. Siti Hardianti Rukamana atau Mbak Tutut benar-benar menggetarkan,” tulis harian Bali Post.
Sebagai stimulan, Mbak Tutut memberikan teladan dengan langsung menukarkan US$50 ribu dari kantong pribadinya ke mata uang Rupiah. Langkah tersebut dinilainya bukan sekadar manuver penyelamatan fiskal, melainkan juga simbol patriotisme di tengah krisis.
Pejabat hingga Konglomerat Ikut Lepas Dolar
Langkah Mbak Tutut langsung memicu aksi pelepasan valas oleh jajaran pejabat tinggi dan politisi. Rombongan anggota Majelis Permusyawarawan Rakyat (MPR) mendatangi Gedung Bank Indonesia untuk mengonversi Dolar AS mereka.
Di antara rombongan itu tampak Ketua Panitia Ad Hoc MPR Hartono dan Wakil Ketua Susilo Bambang Yudhoyono. Laporan Bali Post mencatat SBY, yang kala itu masih anggota MPR dari Fraksi ABRI, menukar US$1.300.
Para teknokrat dan menteri ekonomi juga ikut memasok Dolar ke BI. Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad serta Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono tercatat melepas kepemilikan Dolar mereka. Secara akumulatif, total dana segar yang berhasil dikumpulkan BI pada gelombang pertama aksi tersebut mencapai US$650 ribu.
Gerakan ini kemudian menyentuh jajaran konglomerat papan atas. Harian Berita Yudha mencatat para taipan kawakan seperti Aburizal Bakrie, The Ning King, dan Imam Taufik masing-masing menukarkan US$100 ribu ke Rupiah, menjadikan mereka kontributor perorangan terbesar saat itu.
Taipan senior Sukamdani Sahid Gitosardjono juga menyusul. “Ranking kedua diduduki pengusaha Sukamdani Sahid Gitosardjono yang melepas US$50.100 dan rela menyerahkan 1 kg emas miliknya kepada pemerintah,” tulis Berita Yudha.
Gerakan ini kian bergulir bagai bola salju di tengah masyarakat. Sebagai bentuk dukungan tambahan, Mbak Tutut kembali menyerahkan 2 kilogram emas murni milik pribadinya kepada negara.
Kritik: Simbolis Tanpa Dampak Signifikan
Kendati dielu-elukan di media massa, Gerakan Cinta Rupiah tak luput dari kritikan tajam para ekonom dan pengamat internasional. Dinilai hanya sebagai gimmick atau aksi simbolis yang tak bergigi melawan kekuatan fundamental pasar keuangan global.
Total valas yang berhasil dihimpun dari gerakan Getar ditaksir hanya berkisar US$5 juta. Angka ini bak setetes air di padang pasir jika dibandingkan dengan kebutuannya deviasi serta utang luar negeri Indonesia yang saat itu membengkak hingga puluhan miliar Dolar AS.
“Ini tak akan menyelesaikan masalah,” cetus pengusaha dan politisi Fahmi Idris, sebagaimana dikutip dari Bali Post.
Peringatan itu terbukti benar. Kekuatan Dolar AS tak terbendung, dan nilai tukar Rupiah terus meluncur ke titik terendah. Efek domino dari hancurnya mata uang nasional memicu kebangkrutan massal sektor korporasi, lonjakan PHK, hingga melonjaknya harga bahan pokok.
Krisis ekonomi akut itu akhirnya bermutasi menjadi krisis sosial-politik yang dahsyat. Gelombang demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan Mei 1998 meletus di berbagai kota. Pada akhirnya, Presiden Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya, menutup 32 tahun rezim Orde Baru.
Gerakan Cinta Rupiah kini tersimpan sebagai kenangan simbolis sebuah upaya patriotik yang tidak cukup untuk menyeimbangkan pasar global, namun tetap mengukuhkan peran moral dalam menghadapi krisis.













