Bisnis

Bos OJK Tak Yakin Bursa RI Layak Disandingkan dengan Zimbabwe

Avatar of Sulsel Times
0
×

Bos OJK Tak Yakin Bursa RI Layak Disandingkan dengan Zimbabwe

Sebarkan artikel ini
Bos OJK Tak Yakin Bursa RI Layak Disandingkan dengan Zimbabwe
Bos OJK Tak Yakin Bursa RI Layak Disandingkan dengan Zimbabwe
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Kamis, 29/10/2026 — Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi meragukan apakah pasar modal Indonesia layak disandingkan dengan negara-negara dalam kategori pasar mandiri seperti Zimbabwe, Ukraina, dan Argentina.

Ringkasnya…
  • Friderica Widyasari Dewi menegaskan reformasi pasar modal Indonesia terus dilakukan untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, dan kepercayaan investor
  • Evaluasi MSCI memicu gejolak di pasar saham domestik dan berpotensi mengubah klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market
  • Kiki mempertanyakan apakah Indonesia layak disandingkan dengan Zimbabwe, Ukraina yang sedang berperang, dan Argentina yang inflasi >33%
  • Indonesia masih masuk kategori emerging market bersama Malaysia, Korea Selatan, Turki, dan Filipina, dengan kapitalisasi pasar relatif besar, free float minimum 15%, keterbukaan kepemilikan saham mulai 1%
  • OJK ingin membangun pasar modal yang besar, maju, transparan, efisien, adil, dan tangguh, serta memenuhi 16 dari 18 indikator MSCI pada Juni 2026
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Reformasi pasar modal terus berjalan

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan reformasi pasar modal Indonesia terus dilakukan untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, dan kepercayaan investor.

Scroll Kebawah
Advertisement

Evaluasi penyedia indeks global MSCI memicu gejolak di pasar saham domestik pada Januari 2026. Perubahan penilaian terbaru MSCI membuka kemungkinan klasifikasi pasar Indonesia berubah dari emerging market menjadi standalone market.

Dalam evaluasinya, Kiki mempertanyakan apakah Indonesia layak disandingkan dengan negara-negara dalam kategori standalone market, seperti Zimbabwe, Ukraina yang sedang berperang, dan Argentina yang inflasi >33%. “Apakah Indonesia itu sepadannya dengan negara-negara seperti Zimbabwe, negara-negara seperti Ukraina yang lagi perang, atau Argentina, yang kemudian inflasinya sampai dengan lebih dari 33%? Ini sesuatu yang harus kita renungkan,” katanya dalam paparannya pada pembukaan Rapimnas Kadin, Kamis, 29/10/2026.

Indonesia saat ini masih masuk kategori emerging market bersama Malaysia, Korea Selatan, Turki, dan Filipina. Kiki menilai Indonesia memiliki indikator fundamental dan karakteristik pasar yang patut diperhitungkan. Dari sisi ukuran pasar, kapitalisasi pasar saham Indonesia relatif besar. Ketentuan minimum free float berada di level 15%. Keterbukaan kepemilikan saham diberlakukan mulai dari porsi 1%, lebih rendah dibandingkan pasar lain yang mewajibkan pengungkapan kepemilikan pada level 5% ke atas.

Dari sisi ekonomi, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia dinilai kompetitif, sementara inflasi relatif terkendali. Kiki menambahkan bahwa berdasarkan pengumuman MSCI pada Juni 2026, Indonesia telah memenuhi 16 dari total 18 indikator dalam penilaian market accessibility review.

Reformasi pasar modal tidak semata-mata dilakukan untuk memenuhi permintaan satu penyedia indeks global. OJK ingin membangun pasar modal yang lebih besar, maju, transparan, efisien, adil, dan tangguh, sekaligus menjadi sarana investasi jangka panjang bagi masyarakat. “Kita ingin melakukan reform, supaya pasar modal kita ini semakin maju, semakin besar, tapi resilient, transparan, efisien, fair, dan menjadi rumah bagi investasi jangka panjang maupun alternatif investasi lainnya bagi masyarakat investor kita,” ucapnya.

OJK terus menerapkan reformasi untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor, bertujuan memperkuat posisi Indonesia di pasar modal global.

Evaluasi MSCI dan klasifikasi pasar

Evaluasi MSCI memicu gejolak di pasar saham domestik pada Januari 2026 dan menjadi perhatian regulator. Sejak saat itu, OJK bersama penyelenggara pasar modal atau self-regulatory organization (SRO) terus menjalankan agenda reformasi untuk menjawab berbagai persoalan yang menjadi perhatian investor global.

Kiki menegaskan reformasi tersebut tidak semata-mata dilakukan untuk memenuhi permintaan satu penyedia indeks global. Upaya ini bertujuan membangun pasar modal yang lebih besar, maju, transparan, efisien, adil, dan tangguh, serta menjadi sarana investasi jangka panjang bagi masyarakat.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *