Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 25/09/2026 — Rupiah bergerak mendekati Rp 18.000 per USD, sementara langkah stabilisasi Bank Indonesia dinilai sudah cukup.
- Rupiah mendekati Rp 18.000/USD
- Tekanan di September didorong kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak
- Bank Indonesia terapkan diskon swap hedging dan inisiatif bagi investor asing hedging di dalam negeri
- Sinergi Kemenkeu dan BI tingkatkan keyakinan pasar terhadap kebijakan moneter dan fiskal
- Hernaman Tandianto menilai pasar keuangan RI masih menarik dibandingkan negara lain
Di tengah meningkatnya aliran modal keluar imbas kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan imbal hasil Treasury AS, pasar keuangan Indonesia masih dinilai menarik.
Hal itu disampaikan oleh Hernaman Tandianto, SEVP Head of Treasury Sales & Distribution Bank CIMB Niaga, dalam acara Power Lunch CNBC.
Tekanan nilai tukar Rupiah di September masih sangat besar, dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga The Fed dan lonjakan harga minyak yang mengerek inflasi.
Langkah Stabilisasi Bank Indonesia
Bank Indonesia mengambil langkah stabilisasi, di antaranya diskon swap hedging dan inisiatif baru yang memberikan keleluasaan bagi investor asing untuk melakukan hedging di dalam negeri.
Sinergi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia juga menumbuhkan keyakinan pelaku pasar terhadap kebijakan moneter dan fiskal.
Hernaman Tandianto menilai langkah stabilisasi BI sudah cukup, sementara pasar keuangan RI tetap menarik dibandingkan negara lain.







