Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 26/10/2026 — Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) 2026 tetap sesuai target, mendukung defisit APBN sebesar 2,85% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
- Menkeu: Target penerbitan SBN 2026 tak berubah
- Defisit APBN 2026 ditetapkan di 2,85% dari PDB
- Realisasi utang bersih mencapai Rp494,3 triliun (59,4% dari target Rp832,2 triliun)
- Realisasi SBN mencapai Rp497,5 triliun (62,6% dari target Rp799,5 triliun)
- Imbal hasil SBN 10 tahun naik ke 7,446%, masih kompetitif dibanding Jerman (3,3546%)
Suahasil menyampaikan bahwa pemerintah akan terus menerbitkan SBN sesuai target yang telah ditetapkan, sejalan dengan proyeksi defisit 2,85% dari PDB.
Kementerian Keuangan memproyeksikan defisit APBN 2026 bisa naik dari prediksi awal 2,68% menjadi 2,85% dari PDB.
Realisasi pembiayaan utang (neto) hingga Senin, 26 Oktober 2026, mencapai Rp494,3 triliun, setara dengan 59,4% dari target Rp832,2 triliun.
Realisasi surat berharga negara (SBN) mencapai Rp497,5 triliun, atau 62,6% dari target Rp799,5 triliun dalam APBN 2026.
Imbal Hasil SBN Tetap Kompetitif
Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Herman Saheruddin menyatakan imbal hasil SBN tetap relatif aman meski naik ke 7% pasca-potensi penurunan status pasar saham oleh Morgan Stanley Capital International.
Data Refinitiv menunjukkan imbal hasil SBN pemerintah tenor 10 tahun naik ke 7,446% pada Senin, sementara imbal hasil obligasi Jerman 10 tahun berada di 3,3546%.
Herman menegaskan bahwa imbal hasil SBN masih kompetitif dibandingkan negara-negara Eropa, sehingga investor tetap percaya pada pasar keuangan Indonesia.
Kementerian Keuangan akan terus memantau dinamika pasar untuk memastikan penerbitan SBN tetap optimal dan mendukung stabilitas keuangan negara.
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mencapai target defisit dan penerbitan SBN sesuai APBN 2026, sekaligus memastikan imbal hasil tetap kompetitif di pasar global.







