Bisnis

IHSG Terkoreksi 0,98% di Awal Pekan, 445 Saham Merah

Avatar of Sulsel Times
0
×

IHSG Terkoreksi 0,98% di Awal Pekan, 445 Saham Merah

Sebarkan artikel ini
IHSG Terkoreksi 0,98% di Awal Pekan, 445 Saham Merah
IHSG Terkoreksi 0,98% di Awal Pekan, 445 Saham Merah
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 22/06/2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,98% pada perdagangan awal pekan ini. Sebanyak 445 saham tercatat berada di zona merah, sementara sentimen domestik dan global masih membayangi pasar.

Ringkasnya…
  • IHSG turun 0,98% atau 60,45 poin ke 6.116,69
  • 445 saham melemah, 221 menguat, 147 stagnan
  • Nilai transaksi Rp13,48 triliun, volume 22,47 miliar saham
  • Kapitalisasi pasar BEI Rp10.735 triliun
  • Sektor energi menguat, sektor kesehatan dan finansial koreksi dalam
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

IHSG Anjlok 60,45 Poin, Mayoritas Sektor Melemah

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG bergerak di rentang 6.226,72 hingga 6.052,94 sepanjang hari.

Scroll Kebawah
Advertisement

Nilai transaksi tercatat Rp13,48 triliun dengan volume perdagangan 22,47 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,73 juta kali transaksi.

Sebanyak 221 saham menguat, 445 saham melemah, dan 147 saham bergerak stagnan.

Kapitalisasi pasar BEI berada di level Rp10.735 triliun.

Mayoritas sektor perdagangan melemah. Sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat pada hari ini.

Sektor kesehatan, barang baku, dan finansial mengalami koreksi paling dalam.

Sejumlah emiten membebani kinerja IHSG, antara lain BBRI, TLKM, BMRI, BBCA, dan SMMA.

Sentimen yang Memengaruhi Pasar

Pelaku pasar keuangan mencermati beberapa sentimen penting dari dalam dan luar negeri pada awal pekan ini.

Dari dalam negeri, perhatian tertuju pada pengumuman MSCI Classification yang dijadwalkan pada pekan ini. Pengumuman ini penting karena berkaitan dengan aksesibilitas pasar dan dapat mempengaruhi persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia.

Sebelumnya pada Jumat lalu, MSCI merilis laporan Global Market Accessibility Review 2026. Indonesia tetap berstatus Emerging Market, namun MSCI menurunkan penilaian pada kriteria Information Flow dari sebelumnya “+” menjadi “-“.

Jika Indonesia dipertahankan dengan catatan terbatas, tekanan terhadap pasar saham bisa mereda. Sebaliknya, sinyal negatif tambahan dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap arus dana asing.

Sentimen lain yang dicermati adalah perkembangan perang AS dan Iran. Harapan damai sempat muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani memorandum of understanding (MoU) damai berisi 14 poin secara virtual pada pekan lalu.

Namun, pembicaraan perdamaian AS-Iran yang dijadwalkan di Burgenstock, Swiss, batal digelar. Presiden Trump mengancam akan kembali menyerang Iran jika konflik berlanjut.

Menurut laporan Fox News, Trump memperingatkan Iran akan “kehilangan negaranya” jika tetap menutup Selat Hormuz. Jalur ini merupakan nadi utama perdagangan minyak dunia, sehingga ketegangan di sana berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi.

Bagi pasar, perkembangan di Selat Hormuz menjadi penting karena dapat mengganggu arus energi global dan mempengaruhi stabilitas pasar keuangan.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *