Kesehatan

Femisida Meningkat, Akademisi Ungkap Faktor Psikologis dan Sosial di Balik Kejahatan Ekstrem pada Perempuan

Avatar of Sulsel Times
0
×

Femisida Meningkat, Akademisi Ungkap Faktor Psikologis dan Sosial di Balik Kejahatan Ekstrem pada Perempuan

Sebarkan artikel ini
Femisida Meningkat, Akademisi Ungkap Faktor Psikologis dan Sosial di Balik Kejahatan Ekstrem pada Perempuan
Femisida Meningkat, Akademisi Ungkap Faktor Psikologis dan Sosial di Balik Kejahatan Ekstrem pada Perempuan
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jumat, 22/05/2026 — Femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan atau anak perempuan yang didasari oleh jenis kelamin atau gender. Dalam rentang 2024 hingga 2026, setidaknya ada 10 kasus ekstrem dengan mutilasi yang menimpa perempuan muda. Akademisi Rusliana Rusli menilai peningkatan ini tidak lepas dari faktor psikologis pelaku, kegagalan mekanisme pertahanan ego, serta lemahnya kontrol sosial.

Ringkasnya…
  • Femisida adalah pembunuhan berbasis gender yang pertama kali diperkenalkan oleh aktivis Diana E. H. Russell pada 1976
  • Sepanjang 2024–2026 tercatat 10 kasus femisida ekstrem disertai mutilasi pada perempuan muda
  • Rusliana Rusli, akademisi, menjadi narasumber analisis psikologis dan sosial kasus femisida
  • Kasus menonjol terjadi di Ngawi, Trenggalek, Ponorogo, dan Mojokerto dengan modus mutilasi
  • Peningkatan femisida membutuhkan penguatan karakter perempuan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Apa itu Femisida?

Femisida merupakan istilah yang pertama kali dicetuskan oleh aktivis feminis Diana E. H. Russell pada 1976 untuk membedakan pembunuhan perempuan dari pembunuhan netral atau homisida. Rusliana Rusli menjelaskan bahwa femisida adalah aksi keji dan ekstrem yang menghabisi nyawa perempuan atau anak perempuan semata-mata karena jenis kelamin atau gendernya.

Salah satu kasus yang menonjol adalah pembunuhan Uswatun Khasanah, seorang gadis muda asal Blitar. Jasadnya ditemukan terpisah di Ngawi, Trenggalek, dan Ponorogo. Kasus terbaru terjadi di Mojokerto, di mana korban dimutilasi hingga lebih dari 600 bagian kecil. Pola mutilasi massal ini menandakan bahwa kasus tersebut bukanlah kejahatan biasa.

Menurut Rusliana, data dari rentang tahun 2024 hingga 2026 mencatat setidaknya 10 kasus ekstrem dengan mutilasi yang menimpa kalangan perempuan yang masih sangat muda. Hal ini menjadi perhatian serius karena menunjukkan tren peningkatan kekerasan berbasis gender yang paling ekstrem.

Teori Femisida Secara Psikologis dan Sosial

Dalam pendekatan teori psikoanalisis milik Sigmund Freud, kejahatan keji sering kali disebabkan oleh kegagalan mekanisme pertahanan ego, seperti superego, atau dorongan alam bawah sadar yang destruktif. Rusliana menyebut beberapa faktor yang dapat memicu femisida.

Pelaku mungkin memiliki trauma masa lalu yang ditekan sehingga memicu agresi luar biasa yang dilampiaskan tanpa kontrol dan tanpa sikap rasional. Faktor pemicu utama sering berakar dari rasa tersinggung karena harga diri terusik, apalagi jika pelaku memiliki sifat cepat emosi dan cepat marah.

Tindakan keji seperti memutilasi biasanya lahir dari rasa takut yang luar biasa akan konsekuensi. Misalnya, ketika seorang pria yang sudah beristri terjebak dalam masalah, ia nekat menghilangkan jejak demi menutupi kesalahannya. Ketidaksiapan mental dan ketidakmampuan bertanggung jawab atas dampak tindakan juga menjadi faktor signifikan.

Rusliana menekankan bahwa pembentukan watak yang baik tidak bisa hanya dibebankan pada lembaga sekolah. Pondasi terpenting dibangun di dalam rumah melalui kehangatan keluarga. Ketika pemuda kehilangan rasa percaya diri, harapan untuk maju, dan ruang aman untuk saling percaya, tingkat stres mereka melonjak. Akibatnya, muncul jalan pintas seperti ingin hidup enak tanpa mau bekerja keras.

Untuk mengatasi kemerosotan moral ini, dibutuhkan kerja sama erat dari seluruh pemangku kepentingan. Langkah konkret harus dimulai dengan membangun karakter kuat, terutama di kalangan perempuan. Menjadi perempuan hebat bukan lagi soal tampil cantik secara fisik, melainkan bagaimana menanamkan keberanian dan ketegasan untuk berkata tidak pada hal-hal yang merendahkan atau merugikan diri mereka.

Kasus femisida yang terus meningkat menjadi pengingat bahwa kekerasan berbasis gender masih menjadi ancaman nyata. Rusliana berharap masyarakat lebih waspada dan aktif menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *