Teknologi

Dokter Tak Temukan Kelainan, AI Damo Panda Deteksi Kanker Pankreas

Avatar of Sulsel Times
0
×

Dokter Tak Temukan Kelainan, AI Damo Panda Deteksi Kanker Pankreas

Sebarkan artikel ini
Dokter Tak Temukan Kelainan, AI Damo Panda Deteksi Kanker Pankreas
Dokter Tak Temukan Kelainan, AI Damo Panda Deteksi Kanker Pankreas
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Makassar, Kamis, 13/08/2026 — Seorang pria di China diketahui mengidap tumor neuroendokrin pankreas setelah sistem kecerdasan buatan (AI) Damo Panda menemukan kelainan yang luput dari pemeriksaan awal dokter.

Ringkasnya…
  • Seorang pria di China bermarga Fang didiagnosis tumor neuroendokrin pankreas
  • AI Damo Panda mendeteksi kelainan yang luput dari CT scan awal
  • AI dikembangkan Damo Academy, lembaga riset milik Alibaba
  • Kasus terungkap di Jiaxing, Zhejiang, China, pada awal 2025
  • Tumor diangkat lewat operasi minimal invasif pada April 2025
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Fang datang ke rumah sakit di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China timur, pada awal 2025 karena batuk berkepanjangan.

Scroll Kebawah
Advertisement

Ia menjalani CT scan dada. Hasilnya tidak menunjukkan kelainan, sehingga Fang pulang tanpa mengetahui ada masalah serius.

Beberapa hari kemudian, rumah sakit menghubunginya kembali. Hasil CT scan Fang ditinjau ulang menggunakan sistem AI untuk menemukan kelainan yang mungkin terlewat.

Dari peninjauan itu, AI menemukan bayangan mencurigakan pada pankreas Fang. Padahal, pankreas bukan organ yang menjadi fokus pemeriksaan awal.

Pemeriksaan lanjutan memastikan bayangan tersebut merupakan tumor neuroendokrin pankreas, jenis kanker langka yang juga pernah diderita pendiri Apple, Steve Jobs.

Karena ditemukan lebih awal, dokter dapat mengangkat tumor melalui operasi minimal invasif pada April 2025.

“Tanpa peringatan dari AI tersebut, saya mungkin sudah kehilangan kesempatan,” ujar Fang, Kamis, 13/08/2026.

AI Damo Panda untuk deteksi dini

Teknologi yang digunakan untuk menemukan kanker Fang bernama Damo Panda. AI ini dikembangkan Damo Academy, lembaga riset milik Alibaba, dan dirancang untuk membantu mendeteksi kanker pankreas.

Damo Panda bekerja dengan memanfaatkan CT scan yang sudah dilakukan pasien untuk keperluan lain. Sistem ini mencari tanda-tanda kelainan pada bagian tubuh lain yang mungkin luput dari pemeriksaan awal.

Pendekatan ini dikenal dengan istilah opportunistic screening. Dengan data pemeriksaan yang sudah tersedia, AI dapat membantu mendeteksi penyakit lain tanpa pasien harus menjalani pemeriksaan tambahan.

Dalam kasus Fang, CT scan dilakukan karena ia batuk. Namun dari pemeriksaan yang sama, AI mampu menemukan tanda-tanda tumor di pankreasnya.

Zhang Ling, pakar algoritma senior di Damo Academy, mengibaratkan kemampuan tersebut seperti mencari jarum di tumpukan jerami.

“AI dapat menemukan jarum di tumpukan jerami dan memberikan informasi berharga bagi dokter,” kata Zhang, Kamis, 13/08/2026.

Meninjau 180.000 CT scan dan status FDA

Kemampuan Damo Panda bukan hanya terlihat pada kasus Fang. Di Rumah Sakit Rakyat Afiliasi Universitas Ningbo, Zhejiang, sistem yang sama telah digunakan sejak akhir 2024 untuk meninjau lebih dari 180.000 CT scan bagian dada dan perut.

Dari seluruh hasil pemindaian tersebut, Damo Panda diklaim menemukan lebih dari 20 kasus kanker pankreas. Sebanyak 14 di antaranya merupakan kanker tahap awal.

“Untuk beberapa pasien ini, saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa AI telah menyelamatkan mereka,” kata Zhu Kelei, wakil presiden rumah sakit tersebut, Kamis, 13/08/2026.

Damo Panda tidak hanya diterapkan di rumah sakit perkotaan. AI ini juga telah digunakan di fasilitas kesehatan tingkat kabupaten di Zhejiang, Yunnan, Hunan, dan Shanxi.

Saat ini, Damo Panda tercatat mendapat status breakthrough device dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA).

Status tersebut menjadi yang pertama bagi AI medis yang dikembangkan perusahaan teknologi China. Penetapan ini dinilai dapat membuka jalan bagi Damo Panda untuk memperluas penggunaannya ke praktik klinis di tingkat global.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *