Sulseltimes.com, Makassar — Harga jual usaha rumahan sebaiknya dihitung dari seluruh biaya per produk, ditambah keuntungan yang ditargetkan, lalu dibandingkan dengan harga dan kebutuhan pasar.
- Hitung semua biaya per produk
- Masukkan bahan, kemasan, tenaga, dan biaya operasional
- Tambahkan laba yang ditargetkan
- Bandingkan dengan produk sejenis
- Evaluasi harga saat biaya berubah
Menetapkan harga hanya dari biaya bahan berisiko membuat usaha tampak laku tetapi tidak menyisakan uang untuk kemasan, listrik, ongkos layanan, dan waktu kerja.
Hitung biaya per unit lebih dulu
Catat bahan baku, kemasan, biaya transaksi, ongkos kirim yang ditanggung penjual, serta biaya operasional yang dapat dibagi ke setiap produk.
Jika satu kali produksi menghabiskan Rp180.000 dan menghasilkan 20 porsi yang layak dijual, biaya rata-ratanya Rp9.000 per porsi.
Bila masih ada biaya kemasan Rp1.000 dan alokasi listrik serta tenaga Rp2.000, biaya yang perlu ditutup menjadi Rp12.000 per porsi.
Angka itu merupakan contoh perhitungan, bukan patokan untuk semua usaha.
Tambahkan keuntungan dan cek pasar
Jika penjual menginginkan laba Rp3.000 per porsi di atas biaya contoh tersebut, harga awal yang perlu diuji ialah Rp15.000.
Perhatikan pula biaya promosi, potongan platform, diskon, serta produk yang rusak atau tidak terjual. Jika belum masuk dalam perhitungan, laba nyata dapat lebih kecil.
Bandingkan harga dengan produk serupa dari sisi ukuran, mutu, layanan, dan lokasi. Harga pesaing adalah bahan pembanding, bukan rumus yang harus diikuti.
Bila harga yang menutup biaya terasa terlalu tinggi untuk pasar, tinjau ukuran porsi, pemasok, proses produksi, atau sasaran pelanggan sebelum memberi diskon.
Simpan catatan biaya dan penjualan. Hitung ulang harga saat harga bahan, ongkos kirim, atau biaya platform berubah.
Dengan demikian, keputusan harga dapat dibuat dari angka yang tercatat dan tanggapan pembeli, bukan hanya perkiraan.















