Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 15/06/2026 — Bank Dunia merekomendasikan reformasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) karena 20 persen rumah tangga terkaya di Indonesia justru menikmati setengah dari total subsidi yang seharusnya untuk masyarakat miskin.
- 20 persen rumah tangga terkaya terima setengah subsidi BBM
- Harga minyak Brent US$94 per barel di atas asumsi APBN
- Laporan Indonesia Economic Prospect Juni 2026
- Reformasi subsidi diperlukan untuk menjaga ruang fiskal
- Lonjakan harga minyak global membebani anggaran negara
Subsidi BBM Dinikmati Kelompok Kaya
Laporan Bank Dunia bertajuk Indonesia Economic Prospect (IEP) edisi Juni 2026 menyoroti ketimpangan penyaluran subsidi BBM.
“Lonjakan harga minyak global mengungkap beban fiskal dan kelemahan dari penargetan subsidi BBM, di mana 20 persen rumah tangga terkaya justru menerima setengah dari total subsidi BBM,” demikian tertulis dalam laporan yang dirilis Senin, 15/06/2026.
Subsidi BBM selama ini diklaim diperuntukkan bagi masyarakat dengan kemampuan ekonomi rendah.
Namun data Bank Dunia menunjukkan kelompok kaya justru menjadi penikmat utama.
Dampak Lonjakan Harga Minyak Global
Bank Dunia menilai guncangan harga minyak juga menjadi beban anggaran dan menggerus ruang fiskal pemerintah.
Gangguan terhadap pasar minyak dan disrupsi logistik membuat harga minyak mentah Brent tetap tinggi di kisaran US$ 94 per barel.
Angka tersebut sekitar US$ 24 di atas asumsi yang digunakan dalam APBN 2026.
Kondisi ini memperkuat urgensi reformasi subsidi agar anggaran negara lebih tepat sasaran.
Laporan Bank Dunia merekomendasikan pemerintah untuk memperbaiki mekanisme penyaluran subsidi BBM agar lebih berpihak pada rumah tangga miskin dan rentan.







