Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 21/10/2026 — Rupiah dibuka stagnan di level Rp17.980 per dolar AS saat perdagangan dibuka, mengawali hari penentuan suku bunga acuan Bank Indonesia.
- Rupiah dibuka stagnan di Rp17.980 per dolar AS
- Indeks dolar AS (DXY) menguat 0,10% ke 101,803
- Mayoritas 13 institusi keuangan proyeksikan BI naikkan suku bunga 25 basis poin jadi 6,00%
- Inflasi September 2026 naik jadi 3,28% yoy mendekati batas atas sasaran
- Ekonom Juniman: tekanan rupiah jadi tantangan lebih besar dibanding inflasi
Berdasarkan data Refinitiv, nilai tukar rupiah tidak berubah dari penutupan Selasa (20/10/2026) di posisi yang sama.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat menguat 0,10% ke posisi 101,803.
Perhatian pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan diumumkan hari ini.
Mayoritas Proyeksikan Kenaikan 25 Basis Poin
Polling CNBC Indonesia Research terhadap 13 institusi keuangan menunjukkan mayoritas responden memproyeksikan BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6,00%.
Sepuluh responden memproyeksikan kenaikan, sementara tiga lainnya memprediksi BI Rate tetap di level 5,75%.
Jika terealisasi, kenaikan ini menambah rangkaian penguatan suku bunga BI sepanjang tahun ini. Sebelumnya BI telah menaikkan suku bunga kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%, untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi.
Inflasi Mendekati Batas Atas Sasaran
Ekspektasi kenaikan lanjutan tidak terlepas dari pelemahan rupiah yang sebelumnya telah menembus Rp18.000 per dolar AS serta meningkatnya tekanan harga domestik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan (year-on-year), meningkat dari 3,19% pada Agustus.
Angka tersebut semakin mendekati batas atas sasaran inflasi BI sebesar 3,5%, meskipun inflasi inti masih relatif terkendali di level 2,84%.
Tekanan Rupiah Jadi Fokus Utama
Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai pelemahan rupiah dan meningkatnya inflasi domestik menjadi dua pertimbangan utama bank sentral dalam menentukan suku bunga.
Menurutnya, tekanan harga energi dan bahan pangan juga perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi.
Namun, dengan inflasi yang masih berada dalam sasaran BI, Juniman menilai tekanan terhadap rupiah menjadi tantangan yang lebih besar bagi bank sentral dalam mengambil keputusan kali ini.















