Bisnis

Tragedi Runtuhnya Sampoong Department Store: 502 Korban Tewas Akibat Kelalaian Perbaikan Bangunan

Avatar of Sulsel Times
0
×

Tragedi Runtuhnya Sampoong Department Store: 502 Korban Tewas Akibat Kelalaian Perbaikan Bangunan

Sebarkan artikel ini
Tragedi Runtuhnya Sampoong Department Store: 502 Korban Tewas Akibat Kelalaian Perbaikan Bangunan
Tragedi Runtuhnya Sampoong Department Store: 502 Korban Tewas Akibat Kelalaian Perbaikan Bangunan
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 27/09/2026 — Tragedi runtuhnya Sampoong Department Store, mal terbesar Korea Selatan pada 1995, merenggut 502 nyawa karena manajemen mengabaikan tanda-tanda kerusakan struktur gedung selama tiga bulan sebelum bencana.

Ringkasnya…
  • 502 orang tewas dan lebih dari 1.500 terkubur di bawah reruntuhan beton
  • Manajemen mengabaikan retakan panjang di atap dan dinding lantai lima selama tiga bulan
  • Pemilik Lee Joon dituntut hukuman 10 tahun penjara atas kelalaian berat
  • Gedung dibangun di atas bekas lahan tempat sampah yang tidak stabil
  • Para petinggi meninggalkan korban dan mematikan AC demi menjaga potensi bisnis
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Insiden mematikan ini menjadi salah satu bencana non-alam paling mengerikan dalam sejarah modern akibat keserakahan dan kelalaian manajemen. Mengutip The Guardian, pihak pengelola sudah mendeteksi tanda-tanda ancaman bahaya sejak tiga bulan sebelum mal ambruk.

Scroll Kebawah
Advertisement

Pada April 1995, kerusakan parah berupa retakan panjang mulai terlihat jelas di bagian atap dan dinding lantai lima. Namun, alih-alih menutup gedung untuk melakukan audit keselamatan menyeluruh, manajemen justru memilih jalan pintas dengan memindahkan kios-kios di lantai lima ke lantai bawah.

Kontroversi Pengelolaan di Tengah Pengunjung

Sementara itu, operasional di empat lantai lainnya tetap dibiarkan berjalan normal demi meraup cuan. Puncaknya terjadi pada sore hari nahas. Retakan pada bangunan semakin melebar dan merembet hingga ke lantai empat.

Dibanding menutup pusat perbelanjaan yang tengah dipadati pengunjung, pihak manajemen lagi-lagi memilih mengabaikan keselamatan publik. Mereka hanya menutup area lantai empat dan mematikan seluruh sistem pendingin ruangan (AC) di dalam gedung dengan aluran tidak ingin kehilangan potensi transaksi bisnis yang sedang tinggi-tingginya hari itu.

Pemicu Fatal dan Akibatnya

Ironisnya, begitu menyadari situasi gedung sudah sangat berbahaya, para petinggi manajemen justru memilih kabur meninggalkan lokasi. Di sisi lain, ribuan pegawai tetap dipekerjakan untuk melayani pengunjung yang terus berdatangan.

Para pengunjung sama sekali tidak menyadari tingkat kerusakan struktur gedung, dan hanya merasakan suasana mal yang semakin pengap dan panas akibat AC dimatikan. Hingga sekitar 20 detik, bangunan megah berlantai lima itu runtuh total dan meratakan seluruh isinya, menimbun lebih dari 1.500 orang di bawah tonase beton.

Berdasarkan data Encyclopaedia Britannica, tim penyelamat gabungan akhirnya berhasil mengevakuasi 937 korban luka-luka, menemukan 502 korban jiwa, sementara enam orang lainnya hilang dan jasadnya tidak pernah ditemukan.

Akar Masalah Konstruksi

Hasil investigasi mendalam yang dirilis The Guardian mengungkap bahwa akar dari bencana ini sudah ditanam sejak proses pembangunan gedung dimulai pada tahun 1987. Lahan tempat berdirinya mal tersebut ternyata merupakan bekas tempat pembuangan sampah (landfill) yang kondisi tanahnya tidak stabil untuk menopang struktur bangunan komersial berskala masif.

Kontraktor awal proyek sebenarnya sudah memberikan peringatan keras terkait risiko tinggi pembangunan di atas lahan labil tersebut, serta menyarankan agar lokasi itu dijadikan kompleks apartemen dengan struktur beton yang lebih kuat.

Namun, pemilik Sampoong, Lee Joon, dengan arogan menolak masukan tersebut dan tetap memaksa membangun pusat perbelanjaan. Ketika kontraktor pertama menolak menuruti rancangannya demi alasan keselamatan jiwa, Lee Joon dengan mudah memecat mereka dan menggantinya dengan kontraktor lain yang mau menuruti instruksinya.

Investigasi resmi akhirnya menyimpulkan bahwa keruntuhan fatal Sampoong Department Store diakibatkan oleh kombinasi buruknya perencanaan konstruksi sejak awal serta kelalaian fatal pihak pengelola dalam merawat bangunan.

Pengadilan pun menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepada sang pemilik, Lee Joon, serta tujuh tahun penjara kepada putranya, Lee Han-Sang, atas kelalaian berat yang berujung pada hilangnya ratusan nyawa manusia.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *