Sulseltimes.com, Mamuju, Jumat, 04/09/2026 — Remaja asal Rantebulahan, Kabupaten Mamasa, Rio, yang pernah tercatat sebagai Anak Tidak Sekolah (ATS) kini berperan sebagai relawan membantu teman-temannya kembali ke bangku pendidikan.
- Rio mantan ATS jadi relawan pendidikan
- 499 data ATS terrekonfirmasi di Sulbar
- Muhammad Nehru Sagena Kadis Disdikbud Sulbar
- Mamasa, Sulawesi Barat
- Kepedulian sosial dan penanganan ATS
Rio sebelumnya dikembalikan ke sekolah di SMK Rantebulahan Timur melalui program pengembalian ATS Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar). Setelah kembali bersekolah, ia justru mencari teman-teman yang belum bersekolah dan membantu mereka mendapatkan akses pendidikan.
Terbaru, Rio melaporkan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulbar, Muhammad Nehru Sagena, mengenai dua orang temannya yang ingin melanjutkan ke SMK. Keduanya berhenti sekolah pada jenjang yang berbeda, satu saat akan ujian kelas IX SMP dan satu lagi saat duduk di kelas VIII SMP.
Nehru kemudian mengarahkan Rio untuk mencari solusi pendidikan yang memungkinkan, salah satunya melalui program Paket B sebelum melanjutkan ke jenjang atas. Inisiatif Rio dinilai Nehru sebagai bukti dampak positif program Gubernur Suhardi Duka dalam penanganan ATS.
Dampak Sosial Program Pengembalian ATS
“Ini dulunya anak tidak sekolah, sekarang setelah kita kembalikan ke sekolah, dia sendiri mau jadi relawan. Dia pergi sendiri mencari anak tidak sekolah dan dia sendiri mendapatkan anak-anak,” kata Nehru, Jumat, 04/09/2026.
Menurutnya, pengalaman mendapatkan kembali akses pendidikan mendorong Rio untuk peduli pada anak lain dengan persoalan serupa. Nehru menilai hal ini sebagai pembelajaran sosial penting bagi anak-anak untuk saling mendukung dan menumbuhkan kepedulian sosial.
“Bagaimana program ini bisa mendorong anak-anak untuk peduli kepada sesamanya. Ketika dia mendapatkan kebaikan, dia juga mau teman-temannya mendapatkan kebaikan,” ujarnya.
Data Penanganan ATS di Sulawesi Barat
Di sisi lain, upaya penanganan ATS di Sulbar terus dilakukan melalui pendataan, rekonfirmasi, dan penjangkauan lapangan. Berdasarkan data aplikasi PAPPASIKOLAI dan laporan masyarakat melalui MASIGA Disdikbud Sulbar, terdapat 499 data ATS yang telah direkonfirmasi dan diinput ke aplikasi.
Dari jumlah tersebut, 301 laki-laki dan 198 perempuan dengan rata-rata usia 17 tahun. Sebaran data berasal dari lima kabupaten: Polewali Mandar 260 anak, Majene 183 anak, Mamasa 30 anak, Mamuju Tengah 18 anak, dan Mamuju 8 anak. Pasangkayu belum memiliki data tercatat.
Terpilih jalur pendidikan nonformal sebanyak 315 anak, sementara empat anak memilih jalur formal. Selain itu, tercatat 272 laporan masyarakat terkait anak yang ingin kembali bersekolah, di mana 246 laporan sudah ditindaklanjuti dan 26 laporan masih pending.












