Sulseltimes.com, Makassar, Kamis, 03/09/2026 — Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menjelaskan empat alasan Pemprov Sulsel menerapkan skema Multi Years Project (MYP) bernilai Rp3,7 triliun untuk infrastruktur tahun jamak 2025-2027.
- Pemprov Sulsel gelar MYP Rp3,7 triliun untuk infrastruktur 2025-2027
- Menyasar 1.000 km jalan, 54.000 ha irigasi, 2 rumah sakit regional
- Gubernur Andi Sudirman Sulaiman sebut 4 keunggulan skema multiyears
- Anggaran bersumber dari efisiensi APBD, target rampung tahun depan
- Dampak: jamin kualitas bangunan, efisiensi lelang, hingga kesehatan cash flow daerah
Pembangunan infrastruktur di Provinsi Sulawesi Selatan terus digelar melalui skema tahun jamak 2025-2027. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp3,7 triliun bersumber dari hasil efisiensi APBD. Proyek mercusuar ini mencakup perbaikan jalan sepanjang 1.000 kilometer, jaringan irigasi melayani 54.000 hektar sawah, serta pembangunan dua rumah sakit regional di Kabupaten Gowa dan Luwu. Pemprov menargetkan seluruh proyek rampung pada tahun depan.
Gubernur Andi Sudirman Sulaiman membeberkan empat alasan utama Pemprov memilih mekanisme pembangunan tahun jamak (multiyears) dibandingkan penganggaran tahun tunggal (single year). Penjelasan disampaikannya terkait strategi percepatan pembangunan infrastruktur provinsi.
Empat Keunggulan Skema Multi Years Project
1. Jamin Ketuntasan dan Kesempurnaan Fisik Bangunan
Alasan pertama adalah menjamin ketuntasan dan kesempurnaan pengerjaan fisik bangunan. Andi Sudirman menilai durasi satu tahun tidak cukup untuk merampungkan fasilitas penunjang proyek berskala besar.
“Kalau kita mengerjakan secara multi years, pembangunannya bisa tuntas. Waktu satu tahun itu tidak cukup untuk membangun. Misalnya rumah sakit. Pembangunan fisik tahun ini, tapi masih banyak saja supporting facility gedung-gedungnya masih belum ditambahkan. Begitu juga jalan. Kalau kita bangun satu tahun satu ruas, tidak nyambung dengan ruas kedua tahap berikutnya, dia beda umur sehingga kekuatan jalan tidak seumur dan ada jeda terputus. Ketika musim berubah pancaroba, ada celah di antaranya yang bisa menjadi sebab mulainya kerusakan-kerusakan baru,” kata Andi Sudirman, Gubernur Sulawesi Selatan, Kamis, 03/09/2026.
2. Efisiensi Biaya dan Waktu Lelang
Alasan kedua berfokus pada efisiensi biaya dan waktu pelaksanaan tender. Pelaksanaan lelang satu kali untuk paket pengerjaan bernilai besar dinilai jauh lebih hemat ketimbang mengulang proses lelang berkali-kali untuk paket bernilai kecil.
“Paling penting bahwa kita menghemat di tengah efisiensi. Satu kali lelang untuk nilai Rp500 miliar dibanding 10 kali lelang nilai Rp50 miliar itu jauh sangat berbeda. Karena akan ada losses di budgeting penganggarannya, dan ada yang kemudian penganggarannya akan double ketika kita menganggarkan,” kata Andi Sudirman.
3. Tarik Keterlibatan Kontraktor Nasional dengan Wajib Local Content
Alasan ketiga berkaitan dengan upaya menarik keterlibatan kontraktor berskala nasional demi menjaga mutu pengerjaan. Paket pekerjaan bernilai besar membuka ruang bagi perusahaan BUMN untuk masuk, mengingat mereka terbentur aturan batas minimal nilai tender.
“Ketika paketnya besar, maka perusahaan yang masuk adalah rata-rata perusahaan yang standar nasional sehingga pembangunannya memang akan jauh lebih bagus. Kami mensiasatinya dengan mewajibkan mereka local content 40 persen sehingga (kontraktor) lokal-lokal bisa bergabung,” kata Andi Sudirman.
4. Jamin Kepastian Pembiayaan dan Kesehatan Cash Flow Daerah
Alasan keempat adalah menjamin kepastian pembiayaan dan kesehatan alur kas (cash flow) daerah. Penganggaran tahun jamak memberikan keleluasaan bagi pemprov untuk menyusun skema serta proyeksi pembayaran secara berkala sesuai realisasi pendapatan daerah.
“Salah satu juga keunggulan karena kita bisa mengatur fiskal kita dalam pembayaran, cash flow bagaimana kita kemudian mereka menagih dan kita membayar. Dengan adanya multi years, maka cash flow pembayaran per bulan bisa dibuat sampai 2-3 tahun ke depan, sehingga kita aman untuk pembayaran dan gagal bayar bisa dihindari,” kata Andi Sudirman.
Skema MYP ini menjadi strategi Pemprov Sulsel untuk mempercepat keterpenuhan infrastruktur sambil menjaga kesehatan keuangan daerah dan kualitas hasil bangunan.








