Bisnis

CIMB Niaga Proyeksikan IHSG 2026 di Rentang 7.000-8.000, Skenario Terbaik Tembus 8.000

Avatar of Sulsel Times
0
×

CIMB Niaga Proyeksikan IHSG 2026 di Rentang 7.000-8.000, Skenario Terbaik Tembus 8.000

Sebarkan artikel ini
CIMB Niaga Proyeksikan IHSG 2026 di Rentang 7.000-8.000, Skenario Terbaik Tembus 8.000
CIMB Niaga Proyeksikan IHSG 2026 di Rentang 7.000-8.000, Skenario Terbaik Tembus 8.000
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 26/08/2026 — PT Bank CIMB Niaga Tbk memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di rentang 7.000 hingga 8.000 hingga akhir 2026 dengan skenario teroptimis menembus level 8.000.

Ringkasnya…
  • CIMB Niaga proyeksikan IHSG 2026 di rentang 7.000-8.000
  • Tiga skenario: bull case 8.000, base case 7.500, bear case 7.000
  • Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah, Head WM Business Development & Market Research
  • Rabu, 26/08/2026, Jakarta
  • Peluang penguatan IHSG tetap terbuka meski tekanan suku bunga
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Proyeksi tersebut didasarkan pada konsensus sejumlah manajer investasi yang bekerjasama dengan perseroan. Head WM Business Development & Market Research CIMB Niaga Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah menjelaskan terdapat tiga skenario pergerakan IHSG pada 2026.

Scroll Kebawah
Advertisement

“At least kalau kita lihat ini, dari yang paling konservatif itu di 7.000, yang artinya masih ada peluang kenaikan untuk saham-saham di Indonesia,” kata Lanjar saat Kelas Jurnalisme Inspiratif di Ritz Carlton Pacific Place, Rabu, 26/08/2026.

Tiga Skenario Pergerakan IHSG

Dalam skenario bull case atau paling optimistis, IHSG diproyeksikan mencapai level 8.000. Skenario base case menempatkan indeks di sekitar 7.500. Sementara skenario bear case atau paling konservatif melihat IHSG di level 7.000.

Menurut Lanjar, proyeksi itu menunjukkan peluang penguatan IHSG tetap terbuka meski pasar masih menghadapi sejumlah tekanan.

Suku Bunga Mendekati Puncak Jadi Perhatian

Salah satu faktor penentu adalah arah suku bunga Bank Indonesia (BI). CIMB Niaga memasang pandangan konservatif dengan memperkirakan BI Rate berpotensi naik satu kali lagi tahun ini.

Lanjar mengatakan perekonomian domestik berada dalam fase pengetatan sekaligus perlambatan. Kondisi itu tercermin dari kenaikan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan melambat.

“Yang artinya, ini suku bunga sudah mulai mendekati puncak,” ujarnya.

Suku bunga tinggi berpotensi menaikkan biaya pendanaan perusahaan dan menekan valuasi saham. Lanjar menyarankan investor untuk selektif dalam memilih saham.

“Kalau suku bunga tinggi, apa yang akan dihadapi emiten? Biaya untuk mendapatkan dana segarnya akan mahal, dan itu yang akan mengakibatkan valuasi dari saham itu menjadi agak sedikit kurang menarik,” jelasnya.

Emiten yang membutuhkan pendanaan untuk ekspansi akan menghadapi biaya modal lebih tinggi, baik dari pinjaman perbankan maupun penerbitan obligasi. Oleh karena itu, investor diminta memperhatikan fundamental dan struktur keuangan perusahaan, bukan hanya saham yang mengalami koreksi.

Lanjar menyarankan fokus pada saham big cap dengan rasio utang terhadap aset yang tidak terlalu besar.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *