Bisnis

Petani Sawit RI dan Malaysia Kurangi Panen Akibat Biaya Bahan Bakar Melonjak

Avatar of Sulsel Times
0
×

Petani Sawit RI dan Malaysia Kurangi Panen Akibat Biaya Bahan Bakar Melonjak

Sebarkan artikel ini
Petani Sawit RI dan Malaysia Kurangi Panen Akibat Biaya Bahan Bakar Melonjak
Petani Sawit RI dan Malaysia Kurangi Panen Akibat Biaya Bahan Bakar Melonjak
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 09/08/2026 — Petani kelapa sawit swadaya di Sumatra, Sabah, dan Sarawak mengurangi frekuensi panen akibat kenaikan harga solar dan kelangkaan pasokan, mengancam produksi minyak sawit mentah (CPO) global di tengah ancaman El Nino.

Ringkasnya…
  • Petani swadaya kurangi frekuensi panen
  • Harga solar nonsubsidi naik 120% di Sabah Sarawak
  • Produksi CPO terancam El Nino
  • Sumatra hadapi kelangkaan solar
  • Asosiasi desak revisi kebijakan subsidi
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Gangguan panen berkepanjangan memaksa petani kecil menelantarkan jadwal pemanenan tandan buah segar. Hal ini berisiko menurunkan produktivitas di dua negara produsen terbesar dunia, Indonesia dan Malaysia.

Scroll Kebawah
Advertisement

Dampak terberat terasa di Sabah dan Sarawak, Malaysia, di mana harga solar nonsubsidi melonjak hampir 120%. Kedua wilayah ini menyumbang 43,9% dari total produksi CPO Malaysia yang mencapai 20,28 juta metrik ton.

Kebijakan Subsidi Tidak Sesuai Kebutuhan Lapangan

Presiden Asosiasi Pekebun Kelapa Sawit Dayak Sarawak, Napolean R Ningkos, menilai kuota solar bersubsidi 200 liter per bulan jauh di bawah kebutuhan operasional petani pedalaman yang mencapai 500 liter per bulan.

“Kendala keuangan akan membuat kegiatan panen menjadi tidak layak secara ekonomi bagi petani swadaya, yang berujung pada penelantaran lahan dan penurunan langsung produktivitas,” kata Napolean R Ningkos, Ketua Asosiasi Pekebun Kelapa Sawit Dayak Sarawak, Minggu, 09/08/2026.

Petani kini mengurangi putaran panen dari rata-rata 2,5 kali per bulan menjadi hanya 1,5 hingga 2 kali. Medan berat dan jarak jauh ke pabrik pengolahan memaksa konsumsi bahan bakar besar yang tidak tertanggung subsidi saat ini.

Kelangkaan Solar Hamper Produksi di Sumatra

Di Indonesia, Sumatra yang menyumbang 55% produksi sawit nasional menghadapi pasokan solar terbatas sejak Juli 2026. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, mengaku pengangkutan tandan buah terhambat total karena seluruh armada menggunakan mesin diesel.

“Pengangkutan tandan buah petani terdampak karena semua kendaraan dan peralatan menggunakan mesin diesel,” kata Gulat Manurung, Ketua Apkasindo, Minggu, 09/08/2026.

Akibatnya, interval panen diperpanjang menjadi 8 hingga 12 hari dari standar normal 8 hingga 10 hari. Presiden United Sabah Smallholders Association, Raphael Golout, menambah beban biaya generator dan mesin pertanian juga membengkak akibat kenaikan harga bahan bakar global.

Ancaman El Nino Perparah Prospek Produksi

Potensi El Nino pada semester kedua 2026 menjadi risiko tambahan. Data historis menunjukkan El Nino parah pada 2015-2016 memangkas produksi Malaysia hingga 18% dan Indonesia 3%. Harga kontrak berjangka sawit Malaysia sudah naik lebih dari 15% tahun ini merespons kekhawatiran pasokan.

Napolean dan Raphael mendesak revisi kebijakan subsidi solar yang mempertimbangkan tantangan geografis Sabah dan Sarawak. Penundaan panen berpotensi mengurangi hasil panen Sarawak 15% hingga 20%.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *