Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 08/08/2026 — Djoko Susanto yang bermula membantu warung kelontong ibu kini memimpin Grup Alfamart dengan lebih dari 23.000 gerai di seluruh Indonesia.
- Djoko Susanto bermula dari warung kelontong ibu
- Grup Alfamart kini memiliki lebih dari 23.000 gerai
- Perjalanan bisnis dimulai dari Toko Sumber Bahagia
- Berkembang lewat bisnis rokok dan kemitraan dengan Sampoerna
- Menjadi pemain ritel terbesar di Indonesia
Perjalanan pria kelahiran Kwok Kwie Fo itu dimulai di sebuah warung kecil bernama Toko Sumber Bahagia di kawasan Petojo. Ia sempat bekerja sebagai pegawai perakitan radio sebelum memutuskan kembali membantu usaha keluarga.
Di warung itu, Djoko belajar melayani pelanggan, mengatur stok, hingga menjaga toko seharian penuh. Seiring waktu, usaha ibu tersebut berfokus pada penjualan rokok skala besar dengan mitra utama Gudang Garam.
Menurut catatan Sam Setyautama dalam buku Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa Di Indonesia (2008), pada 1987 Djoko sudah memiliki 15 jaringan toko grosir dan terpilih sebagai penjual rokok Gudang Garam terbesar.
Titik Balik Kemitraan dengan Sampoerna
Keberhasilan di bisnis rokok menarik perhatian Putera Sampoerna, bos PT HM Sampoerna. Pertemuan keduanya pada akhir 1986 mengubah nasib Djoko secara total.
Ia diangkat menjadi direktur penjualan PT HM Sampoerna yang membawa perusahaan ke peringkat kedua terbesar setelah Gudang Garam. Kepiawaian memasarkan rokok membuatnya juga dipercaya memimpin PT Panarmas sebagai distributor Sampoerna.
Pada posisi inilah, Djoko turut memasarkan merek baru Sampoerna A Mild pada 1989. Rokok itu kemudian menjadi salah satu yang paling populer di Indonesia.
Lahirnya Alfa dari Gudang Sampoerna
Saat memasarkan rokok baru tersebut, Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo pada 1989 usai mengubah gudang Sampoerna di Jalan Lodan Nomor 80. Menurut Sam Setyautama, dengan modal Rp 2 miliar, gudang itu disulap menjadi Toko Gudang Rabat.
Saham dibagi 40 persen untuk Putera Sampoerna dan sisanya untuk Kwok Kwie Fo. Toko Gudang Rabat berfungsi sebagai distributor rokok Sampoerna, namun perlahan bertransformasi jadi toko kelontong serba ada.
Usaha itu berkembang pesat. Pada 1990-an, Gudang Rabat sudah memiliki 32 gerai dan menjadi pesaing Indomaret. Nama kemudian diubah menjadi Alfa Minimart di bawah PT Sumber Alfaria Triyaja dengan bangunan pertama di Jalan Beringin Raya, Tangerang.
Berdasarkan buku Kaum Supertajir Indonesia (2008), Alfa kemudian go public dengan kapitalisasi pasar ditaksir mencapai US$ 108,29 juta. Sejak itu, Alfa Minimart berganti nama menjadi Alfamart dan beranak pinak hingga mencapai skala saat ini.
Saat ini total gerai Grup Alfamart telah melewati 23.000 unit, termasuk gerai anak usaha seperti Alfamidi dan Lawson.







