Sulseltimes.com, Jakarta, Minggu, 19/07/2026 — 14 menteri Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri secara massal pada masa krisis moneter 1998 mempercepat berakhirnya pemerintahan Soeharto.
- 14 menteri mundur massal
- Kabinet Pembangunan VII
- Ginandjar Kartasasmita dan BJ Habibie
- Krisis moneter 1998
- Soeharto mundur sehari kemudian
Latar Belakang Pengunduran Diri Massal
Para menteri menyimpulkan ekonomi Indonesia berada di ambang kehancuran.
Kesimpulan itu diambil dalam pertemuan di Gedung Bappenas Jakarta.
Ginandjar Kartasasmita memaparkan kondisi ekonomi secara terbuka.
Ia memperingatkan Indonesia berpotensi kolaps jika situasi dibiarkan.
Mayoritas menteri hadir menyetujui penilaian tersebut.
Hanya Ary Mardjono yang menyampaikan pandangan berbeda.
“Indonesia bergerak menuju krisis tanpa jalan keluar,” kata Ginandjar Kartasasmita, Menko Ekuin, Minggu, 19/07/2026.
Ginandjar menyatakan niat mundur dari kabinet yang baru dilantik empat hari sebelumnya.
Keputusannya diikuti satu per satu menteri lainnya hingga 14 orang.
Daftar 14 Menteri yang Mundur
Mereka adalah Akbar Tandjung A.M. Hendropriyono Giri Suseno Hadihardjono Haryanto Dhanutirto Ginandjar Kartasasmita Kuntoro Mangkusubroto Justika Baharsjah Rachmadil Bambang Sumadhijo Rahardi Ramelan Subiakto Tjarawerdaya Sanyoto Sastrowardoyo Sumahadi Theo L. Sambuaga dan Tanri Abeng.
Reaksi Soeharto dan Akhir Pemerintahan
Soeharto terkejut dengan langkah kolektif para menterinya.
Pengunduran diri massal berada di luar perhitungan politiknya.
“Pembentukan kabinet baru tidak akan menyelesaikan akar persoalan krisis,” kata 14 menteri dalam pernyataan bersama, Minggu, 19/07/2026.
Sikap itu menandakan kepercayaan elite ekonomi terhadap Soeharto telah memudar.
BJ Habibie sempat meminta para menteri tetap bertahan.
Keputusan para menteri sudah bulat dan tidak berubah.
Hilangnya dukungan membuat posisi Soeharto sulit dipertahankan.
Sehari kemudian Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden.
Lebih dari tiga dekade pemerintahannya berakhir.







