Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, 20/10/2026 — Pakar memperingatkan efek konsultasi MSCI terhadap rupiah dan potensi aliran dana asing keluar hingga US$25 miliar.
- Anthony Budiawan memperingatkan risiko pelemahan rupiah seiring MSCI membuka konsultasi penurunan status pasar saham Indonesia
- UBS memproyeksikan outflow dana asing hingga US$19 miliar, Anthony memperkirakan bisa mencapai US$20‑25 miliar
- Investor asing mencatat penjualan bersih sekitar US$6 miliar di 2026 hingga pertengahan Oktober sebelum pengumuman MSCI
- Rupiah ditutup Selasa pada Rp17.980 per dolar AS, menguat 0,28%
- Anthony menyerukan OJK dan BEI memperkuat tata kelola pasar modal
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan mengatakan risiko pelemahan rupiah bertambah seiring MSCI membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Dia memperingatkan bahwa aksi jual saham oleh investor asing sejak akhir pekan lalu berpotensi memicu arus keluar modal yang menekan nilai tukar.
“Pasar akan gonjang-ganjing tidak stabil selama periode konsultasi… investor asing cenderung melepas saham Indonesia,” kata Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Selasa, 20/10/2026.
Menurut proyeksi UBS, kata Anthony Budiawan, Selasa, 20/10/2026, potensi arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia dapat mencapai US$19 miliar, baik dari dana pasif maupun aktif. Nilai tersebut setara dengan sekitar 13% dari kepemilikan asing di Indonesia.
Anthony memperkirakan jika penjualan saham dan surat utang pemerintah serta instrumen Bank Indonesia terus berlangsung, arus modal asing bisa keluar US$20-25 miliar. “Jika penjualan saham dan surat utang pemerintah dan Bank Indonesia terus berlangsung, arus modal asing bisa keluar US$20-25 miliar dolar, bukan tidak mungkin rupiah anjlok dan tembus Rp20.000 hingga mendekati Rp22.000 per dolar AS,” ujarnya.
Investor asing tercatat telah menjual bersih saham sekitar US$6 miliar pada 2026 hingga pertengahan Oktober, bahkan sebelum pengumuman konsultasi MSCI tersebut.
Meski demikian, pada perdagangan Selasa, rupiah justru ditutup menguat 0,28% ke posisi Rp17.980/US$.
Anthony juga menyoroti posisi utang luar negeri Indonesia yang mencapai US$459,3 miliar pada Agustus 2026. Nilai tersebut setara dengan sekitar 3,13 kali cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar US$146,5 miliar pada periode yang sama.
Dia mencontohkan tekanan di pasar keuangan pada September 2014 hingga September 2015, ketika cadangan devisa Indonesia turun US$9,4 miliar dan rupiah melemah 20,2%, serta tekanan pasar akibat pandemi Covid-19 pada Februari-Maret 2020, cadangan devisa tercatat turun US$10,7 miliar dalam satu bulan, sedangkan rupiah melemah 21,2%.
Anthony menilai tekanan terhadap rupiah berpotensi meluas melampaui pasar saham. Menurutnya, penurunan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia dapat merembet ke pasar surat utang pemerintah dan instrumen Bank Indonesia (BI), mengingat investor asing juga memiliki eksposur pada kedua instrumen tersebut.
Dia turut menyoroti defisit transaksi berjalan yang disebutnya telah mencapai 3,3% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II-2026.
“Artinya, risiko rupiah tembus Rp20.000 per dolar AS bukan ilusi Indonesia menghadapi potensi penjualan saham berskala besar, kebutuhan pembiayaan eksternal meningkat, dan risiko utang luar negeri yang makin tinggi,” ujarnya.
Seruan Penguatan Tata Kelola Pasar Modal
Untuk mengurangi risiko tersebut, Anthony meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat tata kelola pasar modal secara efektif dan transparan. Dia mendorong keterbukaan identitas pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner), pemeriksaan keterkaitan antarpemegang saham dalam penghitungan saham publik (free float), serta penindakan terhadap manipulasi perdagangan saham sebagai tindak pidana.
Dia meminta OJK dan BEI, kata Anthony Budiawan, Selasa, 20/10/2026, untuk menerapkan langkah-langkah tersebut guna menjaga kepercayaan investor dan stabilitas nilai tukar.
Dampak Potensial terhadap Cadangan Devisa
Jika aksi jual saham dan surat utang terus berlanjut, arus keluar modal asing berpotensi mencapai US$20 miliar-US$25 miliar. Kondisi tersebut juga berpotensi menguras cadangan devisa apabila bank sentral melakukan intervensi untuk meredam gejolak nilai tukar.
Polisi masih menelusuri 11 kendaraan lainnya dan mendalami kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam perkara tersebut.















