Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 16/09/2026 — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan penurunan jumlah calon perusahaan emiten yang ingin melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia.
[points=”Data atau angka penting”] Terdapat 7 perusahaan yang berada dalam pipeline proses pendaftaran IPO dengan perkiraan target dana maksimum sebesar Rp4,02 Triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik global merupakan faktor utama yang mempengaruhi penurunan calon emiten dalam pelaksanaan IPO.
“Penurunan calon perusahaan untuk melakukan IPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dinamika kondisi pasar global, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum,” ujar Hasan Fawzi dalam acara Market Outlook 2026 di Bursa Efek Indonesia.
Percentage perusahaan yang belum memperoleh persetujuan due to increased requirement for improved information transparency remains significant.
Saat ini terdapat 7 perusahaan dalam pipeline proses pendaftaran IPO dengan perkiraan target dana maksimum sebesar Rp4,02 Triliun.
OJK menekankan bahwa fokus tidak hanya pada pencapaian jumlah IPO, tetapi juga pada keseluruhan penghimpunan dana di pasar modal.
“OJK telah menetapkan target penghimpunan dana pada tahun 2026 sebesar Rp250 triliun,” ujar Hasan Fawzi. “Per tanggal 16/09/2026, nilai penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp148,3 triliun.”
Hasan Fawzi menegaskan bahwa prioritas OJK tetap pada kualitas keterbukaan informasi serta kesiapan calon emiten.
Berbeda dengan rencana IPO yang belum memperoleh persetujuan karena masih memerlukan peningkatan kualitas keterbukaan informasi, OJK berkomitmen untuk terus mengkoordinasi dengan BEI dalam sosialisasi calon emiten melalui coaching clinic di berbagai daerah Indonesia.
Penanganan ini bertujuan agar perusahaan yang akan melakukan IPO memiliki kesiapan optimal dan pencapaian standar yang tinggi di pasar modal.







