Viral

Munas dan Konbes NU Diwarnai Kericuhan, Aksi Saling Dorong di Ploso Kediri

Avatar of Sulsel Times
0
×

Munas dan Konbes NU Diwarnai Kericuhan, Aksi Saling Dorong di Ploso Kediri

Sebarkan artikel ini
Munas dan Konbes NU Diwarnai Kericuhan, Aksi Saling Dorong di Ploso Kediri
Munas dan Konbes NU Diwarnai Kericuhan, Aksi Saling Dorong di Ploso Kediri
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Kediri, Kamis, 25/06/2026 — Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, diwarnai kericuhan. Sejumlah peserta terlibat aksi saling dorong akibat kesalahpahaman terkait keputusan lokasi Muktamar.

Ringkasnya…
  • Kericuhan Munas NU
  • Aksi saling dorong peserta
  • Kiai Muhammad Shofwan Taj
  • Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri
  • Pragmatisme dan kapitalisme organisasi
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Kericuhan di Sidang Pleno III

Aksi saling dorong terjadi saat sidang pleno III berlangsung. Perdebatan soal keputusan Muktamar yang akan digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri pada Agustus mendatang memicu ketegangan.

Scroll Kebawah
Advertisement

Suasana yang memanas membuat petugas keamanan turun tangan untuk mengamankan jalannya sidang.

Kritik dari Pengasuh Pondok Pesantren

Pengasuh PP Sembilangan, Bangkalan, Madura, Kiai Muhammad Shofwan Taj, menyayangkan insiden tersebut. Menurutnya, aksi tersebut menunjukkan kurangnya adab dan unggah-ungguh santri di hadapan para masyayikh NU dan sesepuh pesantren.

“Salah satunya terlihat saat sidang pleno III konbes dan munas NU di Ploso. Bagaimana mereka bermanuver dihadapan para masyayikh NU dan sesepuh pesantren. Tanpa adab dan unggah-ungguh santri, mereka meluapkan pikiran dan sikap emosional,” kata Kiai Muhammad Shofwan Taj, Kamis, 25/06/2026.

Refleksi Pragmatisme dalam Organisasi

Lora Shofwan, sapaan akrabnya, menilai fenomena ini menjadi cermin pragmatisme dan kapitalisme dalam struktur serta kader organisasi. Kehadiran masyayikh NU dan sesepuh pesantren tidak lagi dijadikan kompas moral berjam’iyyah.

Menurutnya, dinamika Konbes dan Munas NU di Ploso telah membuka tabir sesungguhnya tentang kondisi NU saat ini.

“Kalau sudah seperti ini, Hadratussyeikh Kiai M. Hasyim Asy’ari telah mengingatkan dalam fatwanya dikitab ‘tanbih an-nahdliyyin’ karya KH Imam Zarkasyi Junaidi, Banyuwangi tentang kerusakan bila pragmatisme meluas,” tutup Lora Shofwan.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *