Sulseltimes.com, Jakarta, Selasa, 15/09/2026 — HYROX mengumumkan akan meninjau ulang protokol penyelenggaraan kompetisi setelah atlet Australia Joanna Wietrzyk tetap melanjutkan lomba meski mengalami buang air besar tanpa sengaja di arena HYROX Beijing.
- Atlet Joanna Wietrzyk tetap bertanding meski mengalami kontaminasi biologis
- HYROX akui ada ambiguitas protokol
- Joe Ho mempertanyakan tanggung jawab penyelenggara
- HYROX Beijing
- Dampak berupa kritik komunitas dan ancaman kekerasan
Wietrzyk, juara dunia HYROX, mengikuti kompetisi kategori elite usia 16-24 tahun di Beijing. Atlet harus menyelesaikan delapan kali lari sejauh 1 kilometer yang diselingi delapan stasiun latihan.
Rekaman kejadian beredar luas di media sosial, memperlihatkan Wietrzyk tetap bertanding meski terdapat kotoran pada bagian kakinya. Ia berhasil keluar sebagai pemenang dengan catatan waktu 1 jam 1 menit 23 detik.
Keputusan membiarkannya terus bertanding menuai kritik terkait aspek kesehatan, kebersihan, dan potensi dampak terhadap peserta lain.
HYROX Akui Ada Ambiguitas Protokol
Menanggapi kontroversi tersebut, HYROX menyatakan akan mempelajari kembali penerapan prosedur dalam situasi yang terjadi di Beijing. Dalam pernyataan yang diunggah melalui Instagram, penyelenggara mengakui bahwa perkembangan olahraga membawa kondisi baru yang membutuhkan kejelasan lebih lanjut.
HYROX menjelaskan bahwa mereka sebenarnya telah memiliki prosedur terkait kontaminasi biologis dan kondisi medis. Namun, kejadian di Beijing menunjukkan adanya situasi tidak terduga yang membuat penerapan protokol tersebut menjadi kurang jelas.
Penyelenggara mengatakan aturan yang ada dirancang untuk mengakomodasi kompetisi elite sekaligus partisipasi dalam skala besar. Karena itu, mereka menilai kejadian tersebut perlu diteliti agar prosedur ke depan dapat diterapkan dengan lebih pasti.
HYROX juga mengakui bahwa kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan di kalangan komunitasnya. Penyelenggara menyatakan akan mendengarkan masukan, menyelidiki apa yang terjadi, serta melakukan perbaikan terhadap prosedur yang dimiliki.
Atlet Pertanyakan Tanggung Jawab Penyelenggara
Kontroversi tidak hanya datang dari masyarakat di media sosial. Joe Ho, atlet putra yang tampil di HYROX Beijing, mempertanyakan tanggung jawab penyelenggara terhadap peserta yang ikut terdampak insiden tersebut.
Menurut Ho, para peserta telah membayar untuk mengikuti kompetisi dan memiliki harapan agar pertandingan diselenggarakan secara profesional serta aman. Ia menilai kondisi yang terjadi berpotensi memberikan dampak fisik maupun psikologis kepada atlet lain yang berada di arena.
Ho juga mempertanyakan kemungkinan adanya bentuk kompensasi bagi peserta yang merasa terdampak, seperti pengembalian biaya pendaftaran atau kredit untuk mengikuti kompetisi berikutnya.
HYROX Kondam Ancaman Kekerasan terhadap Wietrzyk
Di tengah kritik terhadap penyelenggaraan kompetisi, HYROX meminta publik tidak mengarahkan kemarahan kepada Wietrzyk. Penyelenggara mengecam munculnya ancaman kekerasan dan ajakan untuk menyakiti atlet tersebut.
HYROX menegaskan bahwa perilaku semacam itu tidak dapat dibenarkan dalam komunitas olahraga. Mereka menyatakan akan mengidentifikasi pihak yang terlibat dalam ancaman atau pelecehan melalui komentar, pesan langsung, maupun media sosial. Akun yang terbukti melakukan tindakan tersebut akan mendapatkan larangan permanen dari seluruh acara HYROX.
Sementara itu, Wietrzyk sempat mengunggah foto dirinya di rumah sakit setelah perlombaan. Dalam unggahan yang kini telah dihapus tersebut, ia menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diterimanya dan mengatakan akan segera kembali.
Insiden Serupa Pernah Terjadi di Olahraga Ketahanan
Buang air besar tanpa sengaja saat mengikuti perlombaan ketahanan bukan merupakan kejadian yang sepenuhnya baru dalam dunia olahraga.
Mantan juara dunia maraton Paula Radcliffe pernah mengalami masalah serupa saat mengikuti London Marathon 2005. Ia bahkan harus buang air kecil di pinggir jalan setelah mengalami kram perut. Atlet asal Irlandia Catherina McKiernan juga dilaporkan mengalami kondisi serupa ketika mengikuti lomba pada 1998. Sementara itu, atlet jalan cepat Prancis Yohann Diniz mengalami kejadian serupa ketika turun di nomor 50 kilometer pada Olimpiade Rio 2016.
Kasus Wietrzyk kini menjadi perhatian tersendiri karena terjadi dalam kompetisi dengan banyak peserta dan memunculkan pertanyaan mengenai batas antara ketangguhan atlet, keselamatan peserta, serta protokol medis dan kebersihan yang diterapkan penyelenggara.
Hasil peninjauan HYROX terhadap protokol kompetisi akan menjadi acuan penting bagi penyelenggaraan event serupa ke depan.





