Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 04/09/2026 — Sejumlah pekerja di China menggelar payung di atas meja kerja mereka sebagai langkah protektif terhadap paparan pencahayaan kantor yang dianggap berdampak pada kesehatan kulit.
- Tren pakai payung di meja kerja viral di media sosial China
- Pekerja mengeluh kulit gelap, mata lelah, dan wajah kusam setelah bekerja
- Rancangan pencahayaan kantor bernuansa dingin diduga jadi pemicu utama
- Rata-rata waktu kerja mingguan di China capai 48,2 jam, di atas batas normal 44 jam
- Fenomena terkait konsep sindrom bangunan sakit yang sudah dikenal WHO sejak 1980-an
Fenomena ini ramai dibahas setelah seorang pengguna platform RedNote asal Jiangsu membagikan pengalamannya. Ia mengaku baru sebulan bekerja di kantor, tetapi merasa kulitnya menggelap dan matanya lebih cepat lelah. Unggahan tersebut memicu respons dari banyak pekerja lain yang mengalami keluhan serupa.
Berbagai pelindung kemudian bermunculan di meja-meja kerja. Selain payung, sejumlah pekerja terlihat mengenakan topi peneduh matahari, penutup wajah, hingga mengoleskan tabir surya pada wajah dan lengan saat bekerja.
Bukan Sekadar Soal Pencahayaan
Menurut Yoki, seorang perancang pencahayaan yang dikutip media di Tiongkok, banyak kantor memilih pencahayaan bernuansa dingin karena dianggap membantu pekerja tetap waspada dan mendukung produktivitas.
Namun lingkungan kantor tidak hanya dipengaruhi oleh lampu. Udara yang terlalu kering, ventilasi yang minim, debu dari sistem sirkulasi udara, hingga kadar karbon dioksida yang tinggi turut berkontribusi terhadap ketidaknyamanan pekerja.
Kombinasi faktor-faktor tersebut berkaitan dengan istilah sindrom bangunan sakit atau sick building syndrome. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkenalkan konsep ini pada 1980-an untuk menjelaskan berbagai keluhan kesehatan yang muncul saat seseorang berada di dalam bangunan tertentu, meski tidak ditemukan penyebab medis spesifik.
Keluhan yang umum muncul antara lain sakit kepala, hidung tersumbat, tenggorokan teriritasi, kulit kering, kelelahan, hingga kesulitan berkonsentrasi. Gejala tersebut cenderung memburuk setelah berjam-jam di dalam ruangan dan mereda ketika meninggalkan bangunan.
Bangunan Kedap yang Membatasi Udara Segar
Fenomena ini berkembang seiring perubahan desain bangunan modern yang menekankan efisiensi energi. Gedung yang dibuat semakin kedap untuk mengurangi penggunaan energi pendingin atau pemanas justru membatasi pertukaran udara segar di dalam ruangan.
Sebuah penelitian pada 2008 oleh pakar kedokteran sosial asal India, Sumedha Joshi, mengaitkan sindrom bangunan sakit dengan penurunan produktivitas dan peningkatan angka ketidakhadiran pekerja. Joshi merekomendasikan perbaikan ventilasi, pemberian waktu istirahat yang memadai, serta pengurangan stres di lingkungan kerja.
Dampak Visual yang Menjadi Perbincangan Digital
Pembahasan soal lingkungan kantor kini meluas ke ranah penampilan. Di platform TikTok, tren membandingkan kondisi wajah sebelum dan sesudah jam kerja menjadi viral. Wajah yang segar dan riasan yang masih rapi di pagi hari berubah menjadi kulit kusam, rambut berminyak, mata lelah, dan wajah yang tampak bengkak di penghujung hari.
Pekerja di Tiongkok juga menyoroti dampak posisi duduk yang terlalu lama. Kepala yang terus condong ke depan dan bahu yang membungkuk dianggap memengaruhi postur tubuh secara bertahap. Kebiasaan mengernyit saat menghadapi pekerjaan berat pun menjadi candaan, karena dianggap membuat garis-garis halus di wajah semakin tampak.
Waktu Kerja yang Melampaui Batas Normal
Di balik tren kreatif di meja kerja, terdapat persoalan struktural terkait durasi bekerja. Hingga Mei, rata-rata waktu kerja mingguan di China dilaporkan mencapai sekitar 48,2 jam. Angka itu melampaui batas 44 jam per minggu yang tertuang dalam aturan ketenagakerjaan setempat.
Tren penggunaan payung, tabir surya, dan berbagai alat pelindung di meja kerja bukan sekadar soal menjaga penampilan. Fenomena ini mencerminkan kekhawatiran pekerja terhadap kualitas lingkungan kerja, beban jam kerja yang panjang, serta minimnya waktu istirahat yang cukup selama sehari penuh di dalam gedung perkantoran.





