Bisnis

Dulu Penjaga Warung di Petojo, Sekarang Konglomerat Punya 23.000 Toko

Avatar of Sulsel Times
0
×

Dulu Penjaga Warung di Petojo, Sekarang Konglomerat Punya 23.000 Toko

Sebarkan artikel ini
Dulu Penjaga Warung di Petojo, Sekarang Konglomerat Punya 23.000 Toko
Dulu Penjaga Warung di Petojo, Sekarang Konglomerat Punya 23.000 Toko
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Minggu, 27/09/2026 — Djoko Susanto, yang dulunya menjaga warung di Petojo, kini berada di balik konglomerat ritel dengan lebih dari 23.000 toko Alfamart di seluruh Indonesia.

Ringkasnya…
  • Djoko Susanto dimulai sebagai penjaga warung di Petojo, Jakarta Pusat
  • Ia mengelola Toko Sumber Bahagia dan menjadi penjual rokok terbesar untuk Gudang Garam pada 1987
  • Djoko Susanto menjadi direktur penjualan PT Sampoerna dan ikut meluncurkan Sampoerna A Mild tahun 1989
  • Tahun 1989 ia mendirikan PT Alfa Retailindo, yang kemudian berkembang menjadi Alfa Minimart dan Alfamart
  • Sekarang Grup Alfamart mengoperasikan lebih dari 23.000 gerai di Indonesia, termasuk Alfamidi dan Lawson
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Djoko Susanto lahir dengan nama Kwok Kwie Fo dan sejak kecil membantu ibunya mengelola warung kelontong sederhana di kawasan Petojo, Jakarta Pusat. Pengalaman tersebut membekali dasar pengetahuan tentang perdagangan ritel dan layanan pelanggan.

Scroll Kebawah
Advertisement

Dari Toko Sumber Bahagia hingga Mitra Gudang Garam

Setelah bekerja di sebuah perusahaan perakitan radio, Djoko memutuskan kembali ke usaha keluarga dan mengelola Toko Sumber Bahagia. Usahanya kemudian berfokus pada komoditas rokok, dan ia menjadi mitra utama pabrikan Gudang Garam. Menurut catatan sejarawan Sam Setyautama, Djoko telah mengelola 15 jaringan toko grosir dan dinobatkan sebagai penjual rokok terbesar untuk produk Gudang Garam pada tahun 1987.

Transformasi Menjadi Alfamart

Kiprahnya dalam pemasaran rokok menarik perhatian Putera Sampoerna dari PT HM Sampoerna. Djoko diangkat menjadi direktur penjualan PT Sampoerna dan kemudian dipercaya menduduki posisi direktur di PT Panarmas, distributor utama rokok Sampoerna. Pada tahun yang sama, ia mendirikan PT Alfa Retailindo dengan mengubah gudang Sampoerna di Jalan Lodan Nomor 80 menjadi pusat grosir bernama Toko Gudang Rabat.

Toko Gudang Rabat berkembang menjadi toko kelontong modern dan pada era 1990-an telah memiliki 32 gerai, bersaing dengan Indomaret. Pada suatu tanggal, konsep bisnis tersebut resmi bertransformasi menjadi Alfa Minimart di bawah naungan PT Sumber Alfaria Trijaya, dengan gerai pertama di Jalan Beringin Raya, Tangerang. Respons pasar yang positif mempercepat ekspansi, dan perusahaan kemudian melantai di bursa dengan kapitalisasi pasar sekitar US$108,29 juta.

Pada suatu tanggal lain, nama Alfa Minimart berubah menjadi Alfamart. Dengan suntikan modal dari Putera Sampoerna dan strategi ekspansi yang masif, jaringan ritel ini terus tumbuh. Sekarang, di bawah Grup Alfamart, terdapat lebih dari 23.000 gerai di seluruh Indonesia, termasuk anak usaha Alfamidi dan Lawson.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *