Sulseltimes.com, Makassar, Kamis, 16/07/2026 — Pemerintah China resmi melarang hubungan romantis antara manusia dengan chatbot kecerdasan buatan (AI) per 16 Juli 2026. Aturan ini menjadi langkah tak terduga Beijing untuk mendorong kembali angka kelahiran yang terus merosot.
- Pelarangan hubungan emosional dan romantis dengan AI
- Populasi China menyusut empat tahun berturut-turut
- ByteDance dan Alibaba langsung menyesuaikan layanan
- Aturan berlaku 16 Juli 2026
- Pengguna kehilangan karakter AI yang sudah dibangun berbulan-bulan
Aturan Baru Berdampak pada Raksasa Teknologi
ByteDance, induk TikTok, serta Alibaba langsung menyesuaikan fitur chatbot mereka.
Salah satu yang paling terdampak adalah Doubao, chatbot AI terpopuler di China milik ByteDance.
Perusahaan menutup fitur kustom persona untuk mematuhi regulasi baru tersebut.
Fitur ini sebelumnya memungkinkan pengguna menciptakan karakter AI dengan kepribadian dan latar belakang unik.
Banyak pengguna yang sudah membangun ikatan emosional selama berbulan-bulan kehilangan karakter buatan mereka dalam semalam.
Alasan di Balik Larangan
Populasi China menyusut untuk keempat kalinya secara berturut-turut tahun lalu.
Tingkat kelahiran pun anjlok ke rekor terendah sepanjang sejarah.
Pemerintah menilai salah satu penyebabnya adalah generasi muda yang semakin enggan menikah dan memiliki anak.
AI companion atau pendamping virtual diduga menjadi salah satu pemicu tren tersebut.
Chatbot mampu memberi perhatian tanpa batas, sehingga banyak anak muda memilih hubungan virtual ketimbang yang nyata.
Selain itu, kekhawatiran ketergantungan emosional pada AI juga dianggap berisiko buruk bagi kesehatan mental.
Poin Utama Aturan
Regulasi baru ini memuat sejumlah pembatasan ketat.
Pertama, layanan AI dilarang membina hubungan romantis dengan pengguna di bawah umur.
Kedua, chatbot pendamping harus dievaluasi regulator sebelum bisa diakses publik.
Ketiga, pemerintah memiliki wewenang menutup layanan yang dinilai tidak aman.
Aturan ini juga membatasi fitur yang bisa mendorong ketergantungan emosional pengguna.
Reaksi Warganet dan Pengecualian
Di media sosial, banyak pengguna mengaku patah hati setelah karakter AI mereka dihapus mendadak.
Beberapa di antaranya menyebut kehilangan sahabat atau pasangan virtual yang selama ini menemani.
Namun, aturan final sebenarnya lebih longgar dibanding draf awal yang dirilis tahun lalu.
Jeremy Daum dari Yale Law School Paul Tsai China Center menilai versi final “jauh lebih diperlunak” setelah regulator mendengar masukan industri.
Layanan chatbot untuk keperluan bisnis dan customer service tetap diizinkan tanpa batasan berarti.
Artinya, Doubao masih bisa menjawab pertanyaan pengguna, asal tidak berperan sebagai kekasih virtual.
Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa China serius mengembalikan minat generasi muda membangun keluarga nyata di tengah gempuran teknologi.







