Bisnis

J.M.L. Bohl, Tuan Tanah Matraman yang Menguasai Lahan 400 Hektar selama 41 Tahun

Avatar of Sulsel Times
0
×

J.M.L. Bohl, Tuan Tanah Matraman yang Menguasai Lahan 400 Hektar selama 41 Tahun

Sebarkan artikel ini
J.M.L. Bohl, Tuan Tanah Matraman yang Menguasai Lahan 400 Hektar selama 41 Tahun
J.M.L. Bohl, Tuan Tanah Matraman yang Menguasai Lahan 400 Hektar selama 41 Tahun
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Sabtu, 31/10/2026 — J.M.L. Bohl, seorang warga negara Belanda, pernah menguasai lahan partikelir Matraman di Jakarta seluas sekitar 400 hektare selama 41 tahun pada era Hindia Belanda.

Ringkasnya…
  • J.M.L. Bohl, warga negara Belanda, menguasai lahan Matraman seluas sekitar 400 hektare
  • Bohl datang ke Batavia pada tahun 1864 ketika berusia 16 tahun
  • Lahan yang dikuasainya setara dengan 502 bau berdasarkan direktori tahun 1896
  • Bohl memegang tanah Matraman selama 41 tahun sebelum dialihkan pemerintah kolonial
  • Bohl meninggal di usia 72 tahun setelah operasi usus buntu
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Matraman kini dikenal sebagai salah satu kawasan padat penduduk sekaligus pusat kesibukan di jantung ibu kota.

Scroll Kebawah
Advertisement

Di balik wajah modernnya, wilayah ini menyimpan kisah panjang dari masa kolonial tentang seorang tuan tanah asing.

Sosok yang dimaksud adalah J.M.L. Bohl, warga negara Belanda yang datang ke Batavia sekitar tahun 1864 pada usia 16 tahun. Ia lahir pada tahun 1848.

Bohl memulai karirnya dari bawah dan diterima bekerja di perusahaan perdagangan Pitcairn Syme & Co.

Berkat ketekunan, ia berhasil mengumpulkan kekayaan yang kemudian dialokasikan ke sektor properti.

Catatan surat kabar kolonial menyebut bahwa Bohl menjadi tuan tanah atas dua tanah, yaitu Matraman dan Sinajan yang terletak di dekat Paal Merah.

Penguasaan Lahan 400 Hektar di Matraman

Berdasarkan direktori Adresboek van Nederlandsch-Indië voor den Handel edisi 1896, kekuasaan Bohl di Matraman mencapai 502 bau atau setara dengan sekitar 400 hektare.

Di atas lahan tersebut, ia membangun kediaman mewah yang dilengkapi puluhan ekor rusa peliharaan berkeliaran sebagai simbol status dan kemewahan.

Pada masa keemasannya, kawasan Matraman disulap menjadi lahan produktif yang menghasilkan komoditas agrikultur, yakni padi dan kelapa.

Hidup Terpencil dan Akhir Kehidupan

Meskipun bergelimang harta dan menguasai wilayah yang luas, kehidupan pribadi Bohl justru sangat tertutup.

Ia hampir tidak pernah bergaul dengan publik luas dan memilih jalan hidup yang menyendiri.

Nama Bohl populer di kalangan elite kolonial semata-mata karena statusnya sebagai pemilik lahan raksasa.

Di luar bisnis pertanahan, Bohl pernah dicalonkan sebagai anggota dewan perwakilan untuk wilayah Meester Cornelis, yang kini dikenal sebagai Jatinegara.

Akhir kehidupan sang tuan tanah terjadi di sebuah rumah sakit di Jalan Salemba usai menjalani operasi usus buntu yang disusul komplikasi gagal ginjal akut. Ia meninggal pada usia 72 tahun.

Kematian Bohl menandai berakhirnya era penguasaan privat atas tanah partikelir Matraman selama 41 tahun. Aset yang dimilikinya kemudian diambil alih oleh pemerintah kolonial.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *