Sulseltimes.com, Jakarta, Rabu, 07/10/2026 — Bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Rabu, sementara investor mencermati perkembangan imbal hasil surat utang Amerika Serikat.
- Indeks Nikkei 225 datar, Kospi turun 0,57%, S&P/ASX 200 turun 0,13%
- Imbal hasil Treasury 10 tahun 5,286%, tertinggi sejak April 2002
- Ray Dalio: China tidak ingin menambah kepemilikannya atas surat utang AS
- Harga minyak WTI dan Brent naik kurang dari 1%
- Risalah pertemuan Fed September dirilis Rabu; Fed menaikkan suku bunga sejak 2023
Menurut CNBC Indonesia, indeks Nikkei 225 Jepang cenderung datar.
Kospi Korea Selatan turun 0,57%.
Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,13%.
Imbal Hasil Surat Utang AS
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang AS mengambil jeda dari tren kenaikan sejak akhir Februari.
Imbal hasil tenor 10 tahun berada di level 5,286%, setelah sebelumnya mencapai tertinggi sejak April 2002.
Imbal hasil tenor 30 tahun sekitar 5,661%, sementara tenor 2 tahun turun menjadi 4,798%.
Investor Ray Dalio mengatakan kepada Bloomberg bahwa China tidak ingin terus menambah kepemilikannya atas surat utang AS.
Ia menambahkan hubungan antara debitur dan kreditur menjadi sulit ketika kedua pihak berada dalam hubungan geopolitik yang berlawanan.
Harga Energi dan Risalah Fed
Harga minyak mentah WTI dan Brent masing-masing naik kurang dari 1% pada perdagangan Selasa.
Investor juga menanti risalah pertemuan terakhir Federal Reserve pada September yang akan dirilis pada Rabu.
The Fed pada pertemuan tersebut menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023.









