Sulseltimes.com, Makassar, Selasa, 29/09/2026 — Jufri Rahman, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, mengusulkan lima gerakan strategis bagi Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) dalam rangka Festival Adat Budaya Nusantara ke-VIII Sulawesi Selatan 2026.
- Jufri Rahman mengusulkan lima gerakan untuk MATRA: regenerasi adat, ekonomi berbasis budaya, digitalisasi budaya, pelestarian lingkungan, diplomasi budaya Nusantara
- Pernyataan disampaikan dalam Festival Adat Budaya Nusantara ke-VIII Sulawesi Selatan 2026 di Hotel Claro Makassar
- Festival dihadiri tokoh adat termasuk Ketua Dewan Pendiri MATRA Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangku Alam II dan Ketua Umum DPP MATRA KPH Andi Bau Malik Barammamase Karaenta Tukkajannangang Satrio Sasmita
- Jufri menekankan MATRA harus berperan dalam membentuk masa depan berbasis kearifan Nusantara, bukan hanya menjaga masa lalu
- Dia mengajak MATRA menjadikan satu dekade berikutnya sebagai momentum pemberdayaan masyarakat adat dari lokal ke global
Lima Gerakan yang Diusulkan
Gerakan pertama, regenerasi adat. Jufri mengingatkan agar generasi muda tidak hanya mengenal adat melalui buku atau seremoni, tetapi juga terlibat langsung dalam kehidupan budaya. “Jadikan anak muda kita sebagai pelaku, bukan sebagai penonton,” ucap Jufri.
Gerakan kedua, ekonomi berbasis budaya. Menurutnya, warisan budaya perlu memiliki nilai ekonomi yang dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. “Warisan budaya harus mampu menciptakan kesejahteraan karena tanpa kesejahteraan budaya itu akan terkikis oleh zaman,” kata dia.
Gerakan ketiga, digitalisasi budaya. Jufri menilai dokumentasi penting untuk memastikan pengetahuan adat tidak hilang seiring perubahan zaman. Ia menyebut bahasa, seni, sejarah, permainan tradisional, kuliner, serta berbagai kearifan lokal sebagai bagian dari pengetahuan adat yang perlu didokumentasikan dan diwariskan melalui teknologi digital. “Ini harus menjadi tanggung jawab MATRA. Jangan sampai generasi masa depan kita mengenal budaya Nusantara dari pihak lain sementara kita sendiri kehilangan arsip tentang jati diri kita,” ujarnya.
Gerakan keadat, adat menjaga lingkungan. Jufri mengatakan banyak masyarakat adat memiliki pengetahuan ekologis yang diwariskan antargenerasi, yang dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan krisis sumber daya alam.
Gerakan kelima, diplomasi budaya Nusantara. Jufri mengingatkan agar MATRA berkolaborasi dengan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang ia pimpin. “Kelima dan yang terpenting adalah gerakan diplomasi budaya Nusantara. Jadi inilah lima besar untuk MATRA berkolaborasi dengan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang saya pimpin,” ungkap Jufri.
Dia juga mengajak MATRA tidak berhenti pada seremoni saja, melainkan menjadikan satu dekade berikutnya sebagai momentum pemberdayaan. “Hanya tercatat dalam sejarah tetapi tidak menuliskan sejarah untuk kita wariskan kepada anak cucu kita,” jelasnya. “Sekarang ini, mari kita jadikan sepuluh tahun kedua sebagai dekade kebangkitan masyarakat adat. Dari pelestarian menuju ke pemberdayaan, dari seremoni menjadi aksi, dari lokal menjadi global, dari warisan masa lalu menuju kekuatan masa depan,” tandasnya.







