Bisnis

BI Bongkar Kuncian Agar Rupiah Bisa Perkasa Lawan Dolar AS

Avatar of Sulsel Times
0
×

BI Bongkar Kuncian Agar Rupiah Bisa Perkasa Lawan Dolar AS

Sebarkan artikel ini
BI Bongkar Kuncian Agar Rupiah Bisa Perkasa Lawan Dolar AS
BI Bongkar Kuncian Agar Rupiah Bisa Perkasa Lawan Dolar AS
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Bandar Lampung, Sabtu, 05/09/2026 — Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menegaskan keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing sebagai kunci utama stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Ringkasnya…
  • Keseimbangan supply-demand valas kunci stabilitas rupiah
  • Tiga faktor penentu: fundamental, struktural, sentimen
  • Ekspor dan investasi asing memperkuat rupiah
  • Impor dan outflow menekan nilai tukar
  • Filianingsih Hendarta, Deputi Gubernur BI
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Filianingsih menyampaikan hal tersebut saat Lampung Financial Festival 2026 di Hotel Novotel, Bandar Lampung. Ia menjelaskan nilai tukar rupiah fundamentalnya ditentukan oleh mekanisme supply dan demand valas di pasar domestik.

Scroll Kebawah
Advertisement

“Oke, menjaga keseimbangan ya, kuncinya menjaga keseimbangan. Jadi ini sebetulnya kalau kita bicara nilai tukar, itu sama seperti bicara supply demand ya,” kata Filianingsih, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Sabtu, 05/09/2026.

Menurutnya, pasokan dolar meningkat saat ekspor barang tumbuh atau investasi asing masuk ke Indonesia. Kondisi itu berpotensi memperkuat rupiah. Sebaliknya, permintaan dolar melonjak saat impor barang dan jasa meningkat atau terjadi arus dana keluar (outflow) dari investor asing.

“Nah, sama juga dengan ini. Nilai tukar kita lihat ini adalah masalah supply dan demand dari valas ya. Kalau supply-nya itu dia banyak maka nilai tukarnya itu bisa menguat ya, Rupiahnya lebih kuat. Kalau tapi sebaliknya kalau demand-nya tinggi ya, maka dia akan menjadi mahal ya,” jelasnya.

Tiga Faktor Penentu Pergerakan Rupiah

Filianingsih menguraikan tiga pilar utama penggerak nilai tukar rupiah. Faktor fundamental terkait neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan. Faktor struktural berkaitan dengan perilaku permintaan valas pelaku domestik dan asing. Faktor sentimen dipengaruhi dinamika global seperti geopolitik dan harga komoditas.

“Dan selain itu bukan hanya ini aja yang mempengaruhi, kita lihat ada tiga hal utama yang mempengaruhi yaitu faktor fundamental ya mengenai defisit current account dan defisit trade balance. Lalu juga ini keseimbangan antara supply dan demand dari valas domestik,” paparnya.

Sentimen global misalnya perang di Timur Tengah yang menggerakkan harga minyak. Lonjakan harga minyak cenderung mendorong kekuatan dolar dan menekan rupiah.

“Dan yang ketiga adalah faktor sentimen, artinya kondisi global ya. Pada saat ada perang di Timur Tengah, minyaknya naik, maka harga US dollar juga akan meningkat,” katanya.

Mekanisme Penguatan dan Pelemahan Nilai Tukar

Filianingsih mengingatkan nilai tukar pada hakikatnya adalah harga mata uang suatu negara terhadap negara lain. Perubahan angka kurs berarti perubahan harga mata uang tersebut.

Ia memberikan ilustrasi: jika kurs dolar AS berada di Rp17.000 per US$, artinya dibutuhkan Rp17.000 untuk membeli US$1. Jika kurs turun ke Rp15.500 per US$, rupiah dikatakan menguat karena kebutuhan rupiah untuk membeli US$1 menjadi lebih kecil.

“Nah, contohnya kalau kita lihat ya US dollar garis miring Rp 17.000 artinya US$ 1 harganya itu Rp 17.000. Nah, kita lihat kalau Rupiah melemah atau menguat itu apa? Kalau misalnya harganya Rp 17.000 ya menjadi Rp 15.000, kita katakan itu Rupiah menguat ya,” ungkapnya.

Rupiah cenderung menguat saat pasokan dolar melimpas, didorong ekspor yang tumbuh dan masuknya investasi asing ke instrumen seperti obligasi negara. Sebaliknya, tekanan melemah muncul saat kebutuhan dolar domestik naik karena impor dan outflow modal.

“Nah, kita lihat rupiah menguat ketika ekspor meningkat ya. Kenapa? Kalau ekspor meningkat kita jual barang ke luar negeri kita dapat dolarnya ya. Demikian juga kalau orang asing investor dia invest di Indonesia kita dapat uangnya,” tuturnya.

“Tetapi sebaliknya rupiah melemah ketika kebutuhan dolar naik. Kalau terjadi outflow, jadi orang-orang pada ngejual obligasinya keluar dari Indonesia ya, lalu kita melakukan impor kita harus membayar dalam Rupiah,” pungkas Filianingsih.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *