Teknologi

Penggunaan Codex di Indonesia Melonjak, Lebih dari Separuh untuk Non-Coding

Avatar of Sulsel Times
0
×

Penggunaan Codex di Indonesia Melonjak, Lebih dari Separuh untuk Non-Coding

Sebarkan artikel ini
Penggunaan Codex di Indonesia Melonjak, Lebih dari Separuh untuk Non-Coding
Penggunaan Codex di Indonesia Melonjak, Lebih dari Separuh untuk Non-Coding
WhatsApp Logo
Sulsel Times Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 04/09/2026 — Penggunaan alat agen AI Codex dari OpenAI di Indonesia tumbuh pesat sepanjang 2026 dengan lebih dari separuh aktivitasnya untuk tugas non-pemrograman.

Ringkasnya…
  • Penggunaan Codex naik 12 kali lipat
  • Indonesia top 5 global pengguna ChatGPT untuk Codex
  • 50 persen aktivitas Codex untuk non-coding
  • Sektor legal naik 108 kali lipat
  • Terdapat kesenjangan kapabilitas AI antar pengguna
Disclaimer: Ringkasan dibuat secara otomatis.

Data internal OpenAI menunjukkan jumlah pengguna aktif mingguan Codex di Indonesia meningkat 12 kali lipat dibanding awal tahun 2026. Keterlibatan pengguna aktif harian juga naik 16 kali lipat hingga April 2026.

Scroll Kebawah
Advertisement

Indonesia menempati lima besar negara paling sering menggunakan ChatGPT untuk Codex dan analitik data. Hal itu disampaikan Head of Policy OpenAI SEA Sandy Kunvatanagarn saat peluncuran laporan “Closing Indonesia’s AI Capability Gap” di Jakarta, Jumat, 04/09/2026.

Penggunaan Non-Teknis Meningkat

Lebih dari 50 persen token, prompt, dan use case yang dimasukkan ke Codex tidak berkaitan dengan coding. “Aktivitasnya bisa terkait dengan tugas profesional lain, khususnya dalam pekerjaan berbasis pengetahuan. Contohnya menyusun laporan, analisis data, hingga membuat grafis atau materi presentasi,” kata Sandy, Jumat, 04/09/2026.

Pola serupa terjadi global di kalangan enterprise. Divisi non-teknis seperti legal, sales, marketing, dan rekrutmen menjadi pengguna Codex yang aktif. Penggunaan di sektor legal melonjak 108 kali lipat berdasarkan pengguna aktif mingguan sejak Februari 2026.

Kesenjangan Kapabilitas AI

Meski kemampuan AI Indonesia sudah tingkat lanjut, OpenAI menemukan kesenjangan besar antara pengguna tingkat atas dengan rata-rata. Kelompok 5 persen pengguna teratas memakai token penalaran 11 kali lebih banyak dibanding rata-rata.

Menurut Sandy, mayoritas pengguna baru memanfaatkan AI untuk tugas sederhana. “Tantangan sesungguhnya yaitu bagaimana kita memperluas jangkauan dari kelompok frontier ini ke seluruh lapisan masyarakat dan dunia bisnis lainnya, sehingga kita dapat membantu pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Langkah Menutup Kesenjangan

OpenAI menyarankan dua komponen utama. Pertama, memperluas akses teknologi AI bagi pekerja dan institusi. Kedua, mendorong penggunaan AI tingkat lanjut melalui pembekalan keterampilan untuk pekerjaan kompleks berdampak besar.

WhatsApp Logo
Ikuti Sulsel Times di
Google News
Follow

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *