Sulseltimes.com, Jakarta, Senin, 29/06/2026 — Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan rute pasti proyek perpanjangan MRT dari Lebak Bulus menuju Serpong, Tangerang Selatan, tidak akan dibuka ke publik demi menghindari aksi calo tanah yang bisa memicu kenaikan harga lahan.
- Pemerintah rahasiakan rute MRT Lebak Bulus-Serpong
- Studi kelayakan ditargetkan rampung akhir 2026
- Menhub Dudy Purwagandhi khawatir harga tanah melonjak dari Rp1 juta jadi Rp30 juta
- Proyek ini merupakan perpanjangan jalur MRT Jakarta ke kawasan penyangga
- Penentuan rute diserahkan kepada investor, termasuk Sinarmas selaku pengembang BSD
Alasan Kerahasiaan Rute MRT
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa pemerintah sengaja tidak membuka informasi rute MRT Lebak Bulus-Serpong kepada publik.
“Biasanya kita nggak akan buka (rutenya). Kenapa? Nanti calo tanahnya. Mereka nanti beredar di mana-mana. Karena kalau ini bocor ke luar, itu akan mempengaruhi biaya perolehan tanahnya,” kata Dudy, Senin, 29/06/2026.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi spekulasi di media sosial yang menyebut jalur akan melewati Pondok Aren atau Pondok Cabe.
Menurut Dudy, jika rute diketahui sebelum eksekusi proyek, harga tanah bisa melonjak drastis.
“Nanti tanah yang tadinya Rp 1 juta jadi Rp 30 juta. Akhirnya yang dikorbankan masyarakat, yang diuntungkan cuma para makelar saja,” tegasnya.
Studi Kelayakan dan Peran Investor
Saat ini proyek MRT Jakarta dari Lebak Bulus menuju Serpong terus berjalan.
Studi kelayakan atau feasibility study untuk rute interkoneksi ini ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat mengatakan studi kelayakan dilakukan oleh pihak swasta, yakni Sinarmas yang juga pengembang BSD.
Dudy menegaskan penentuan rute sepenuhnya menjadi bagian dari kajian investor yang akan membangun proyek tersebut.
“Mereka akan lihat dari sudut ekonomisnya mana yang menguntungkan rutenya. Mau lewat Pondok Cabe, demand-nya masih banyak atau lewat Pondok Aren, kita belum tahu. Kalau pun keluar, biasanya mereka simpan sendiri supaya biaya investasinya tidak naik,” ujarnya.
Fokus pada Konektivitas Wilayah
Dari sudut pandang pemerintah, menurut Dudy, yang terpenting bukan menentukan jalur tertentu.
Yang utama adalah bagaimana layanan transportasi massal bisa semakin luas dan terhubung dengan kawasan penyangga Jakarta.
“Tapi kalau Sinarmas lewatnya kan BSD, tujuan akhirnya BSD. Terserah mereka mau lewat mana. Kalau saya yang penting jangkauannya semakin jauh dan konektivitasnya lebih baik,” terang Dudy.
Tuhiyat menjelaskan bahwa selesainya studi kelayakan bukan berarti pembangunan konstruksi bisa langsung terlaksana tahun depan.
Masih ada serangkaian tahapan yang harus dilalui, mulai dari pembahasan kelembagaan, skema finansial, hingga penyusunan desain teknis yang mendetail.







