Sulseltimes.com, Jakarta, Jumat, 04/09/2026 — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kenaikan yield SBN tenor 10 tahun tidak mengganggu beban utang negara karena akan disetel dengan Bank Indonesia.
- Yield SBN 10 tahun naik ke 7,229%
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tegaskan beban utang aman
- Penyesuaian akan dilakukan dengan Bank Indonesia
- Kenaikan yield global dipicu geopolitik Iran dan inflasi
- Yield obligasi Jepang, AS, Jerman, Inggris juga naik signifikan
Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,229%, meningkat 0,83% secara tahunan berdasarkan data Trading Economics pada perdagangan Kamis.
“Nanti di-settle dengan Bank Sentral, [kenaikan yield SBN] itu ke kita nggak ada dampaknya,” kata Purbaya, Jakarta, Jumat, 04/09/2026.
Menteri Keuangan menjelaskan otoritas fiskal akan melakukan penyesuaian terkait beban kenaikan imbal hasil tersebut bersama Bank Indonesia.
Konteks Global Mendorong Kenaikan Yield
Tekanan pasar keuangan tidak hanya terjadi di Indonesia. Kenaikan yield obligasi pemerintah terjadi di berbagai negara besar dipicu ketegangan geopolitik di Iran.
Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3,001%, level tertinggi sejak September 1996, berdasarkan data Refinitiv. Nilai ini naik lebih dari tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir.
Di Eropa, yield obligasi Jerman tenor 10 tahun mencapai 3,378%, level tertinggi sejak 2011. Sementara yield US Treasury tenor 10 tahun menyentuh 4,814%, tertinggi sejak November 2023. Yield obligasi Inggris (gilts) tenor 10 tahun mencapai 5,25%, level tertinggi pasca krisis keuangan global 2008.
Inflasi juga menjadi pemicu tren kenaikan yield global. Perang di Timur Tengah yang berkepanjangan mendorong harga minyak dan komoditas seperti pupuk naik.








