Sulseltimes.com, Senin, 19 Oktober 2026 — Kata sandi lemah “123456” diperkirakan menjadi celah yang mengakibatkan pencurian 8,8 juta data kependudukan Denmark.
- Kata sandi lemah 123456 digunakan oleh perusahaan TI Pays ApS, membuka akses ke basis data CPR Denmark
- Peretasan menghasilkan 8,8 juta data kependudukan Denmark dicuri, baru diketahui 12 hari kemudian melalui tagihan mencurigakan
- Direktur Pays ApS Sophie Laursen dan pemerintah Denmark mengonfirmasi insiden, peretas mengklaim tidak bermaksud menjual data
- Insiden serupa terjadi di Indonesia 2024 ketika kredensial PDNS bocor, termasuk kata sandi Admin#1234
- Untuk meningkatkan keamanan, disarankan menggunakan kata sandi panjang unik, tidak menggunakan informasi pribadi, tidak mengulangi kata sandi, menggunakan password manager, dan mengaktifkan autentikasi dua faktor
Perusahaan teknologi informasi Pays ApS, yang menyediakan layanan akses ke Registri Pusat Penduduk Denmark (CPR), diduga menggunakan kata sandi “123456” untuk salah satu akunnya. Kelemahan itu memungkinkan peretas masuk ke sistem yang terhubung dengan basis data CPR dan mencuri 8,8 juta catatan kependudukan.
Menurut direktur Pays ApS, Sophie Laursen, peretas memanfaatkan akses perusahaan ke basis data tersebut untuk mengambil informasi. Pemerintah Denmark juga telah mengonfirmasi terjadinya peretasan tersebut.
Keungkapan baru terdeteksi 12 hari setelah kejadian, ketika sebuah tagihan menunjukkan adanya aktivitas tidak wajar dari perusahaan terkait. Meskipun peretas mengklaim tidak berencana menjual atau menyebarkan data yang dicuri, insiden menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan data pribadi warga Denmark.
Insiden serupa pernah terjadi di Indonesia pada 2024, ketika Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) mengalami kebocoran kredensial. Salah satu kata sandi yang terungkap adalah “Admin#1234”, yang dianggap mudah ditebak dan berisiko disalahgunakan untuk mengakses server penting.
Selain itu, peristiwa kebakaran di pusat data pemerintah Korea Selatan sebelumnya juga menyebabkan hilangnya data dalam jumlah besar, meski penyebabnya berbeda. Kedua kasus menunjukkan bahwa keamanan sistem tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada pengelolaan akses dan kata sandi yang kuat.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) semakin meningkatkan efisiensi serangan siber, karena teknologi ini dapat mengotomatisasi pencarian celah keamanan. Oleh karena itu, perlindungan akun perlu ditingkatkan dengan praktik kata sandi yang baik.
Untuk mengurangi risiko pencurian akun, disarankan membuat kata sandi yang panjang dan unik, menggabungkan huruf, angka, dan simbol yang tidak mudah diprediksi. Hindari menggunakan informasi pribadi seperti tanggal lahir, nama sendiri, atau urutan angka sederhana seperti “123456” dan “password”.
Jangan mengulangi kata sandi yang sama di berbagai layanan. Jika satu akun terbocor, kata sandi yang sama dapat dicoba untuk menebak akun lain.
Menggunakan password manager dapat membantu menghasilkan dan menyimpan kata sandi yang berbeda untuk setiap akun tanpa perlu menghafalnya semua.
Menambahkan lapisan keamanan dengan autentikasi dua faktor (2FA) juga sangat disarankan. Dengan 2FA, hanya mengetahui kata sandi tidak cukup untuk masuk; diperlukan verifikasi kedua seperti kode yang dikirim ke perangkat pengguna.
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, risiko pengambilalihan akun dapat diturunkan secara signifikan, meskipun keamanan sistem secara keseluruhan tetap memerlukan pengelolaan hak akses yang ketat, pemantauan aktivitas mencurigakan, dan pembaruan keamanan secara berkala.







