Sulseltimes.com Maros, Senin, 19/01/2026 — Pesawat ATR 42-500 registrasi PK-THT yang dioperasikan Indonesia Air Transport atau IAT dan dilaporkan jatuh di Gunung Bulusaraung, Maros, pada Sabtu, 17/01/2026, merupakan produk ATR yang dibangun melalui kolaborasi industri kedirgantaraan Prancis dan Italia, dan berikut deretan fakta pabrikan serta spesifikasi teknis lengkap tipe ATR 42-500 yang banyak dipakai untuk misi charter dan penerbangan jarak pendek.
- ATR adalah pabrikan pesawat regional turboprop dari kolaborasi Prancis dan Italia
- Kepemilikan ATR berbasis kemitraan Airbus dan Leonardo dengan porsi setara
- Produksi ATR melibatkan fasilitas di Italia dan Prancis sebelum perakitan final di Toulouse
- ATR 42-500 adalah varian pembaruan dengan mesin lebih kuat dan kokpit digital
- ATR 42-500 punya kapasitas sekitar 46 kursi dan performa jelajah untuk rute regional
Pabrikan ATR yang Membuat ATR 42-500 PK-THT
ATR adalah singkatan dari Avions de Transport Régional.
ATR lahir dari kerja sama industri kedirgantaraan Eropa yang mempertemukan perusahaan Prancis dan Italia pada era awal 1980-an.
Kemitraan ini dibangun untuk mengembangkan pesawat turboprop regional yang efisien di rute jarak pendek.
Perjanjian kerja sama formal pendirian ATR disebut ditandatangani pada 4 November 1981 di Paris.
Model kerja sama yang dipakai berupa kemitraan operasional lintas negara yang memungkinkan dua pihak berbagi desain, produksi, dan pemasaran tanpa melebur penuh dalam satu perusahaan tunggal.
Dalam struktur kepemilikan saat ini, ATR dikelola sebagai usaha patungan dengan porsi setara oleh Airbus dari Prancis dan Leonardo dari Italia.
Akar historisnya berasal dari Aérospatiale di Prancis dan Aeritalia di Italia yang kemudian berkembang melalui konsolidasi industri di masing-masing negara.
Kantor pusat ATR dikenal berbasis di area Toulouse, Prancis, yang juga menjadi pusat perakitan final dan pengujian.
Rantai produksi ATR umumnya tersebar di beberapa titik utama agar setiap komponen dikerjakan oleh fasilitas yang spesialis.
Bagian badan pesawat dan sejumlah komponen ekor disebut diproduksi di Italia melalui fasilitas manufaktur yang terhubung dengan Leonardo.
Sayap dan subassembly penting lainnya diproduksi di Prancis, termasuk kawasan Bordeaux untuk perakitan sayap.
Semua komponen kemudian dikirim ke area Toulouse, Prancis, untuk perakitan final, pengetesan sistem, uji terbang, dan proses penyerahan ke operator.
Skema produksi bertahap ini membuat pesawat keluar dari lini perakitan sebagai hasil integrasi lintas fasilitas.
Di Indonesia, ATR 42-500 termasuk tipe yang banyak dipakai untuk penerbangan sewa, misi khusus, dan rute yang membutuhkan efisiensi turboprop.
Insiden yang menimpa PK-THT saat ini masih dalam penanganan investigasi KNKT.
“Insiden ini kita kategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain,” kata Soerjanto Tjahjono, Minggu, 18/01/2026.
Spesifikasi ATR 42-500 dan Unit PK-THT
ATR 42 adalah keluarga pesawat turboprop regional yang dirancang untuk operasi jarak pendek hingga menengah.
Varian ATR 42-500 dikenal sebagai pembaruan besar dari generasi sebelumnya yang mulai dipasarkan pada pertengahan 1990-an.
Pengembangan ATR 42-500 disebut diumumkan pada 1993.
Penerbangan perdana varian ini disebut terjadi pada 1994.
Sertifikasi kelaikan udara varian ini disebut terbit pada 1995.
Pengiriman awal ke operator juga disebut berlangsung pada 1995.
Produksi ATR 42-500 disebut berjalan sampai awal 2000-an sebelum bergeser ke generasi berikutnya.
Salah satu ciri pembaruan ATR 42-500 ada pada mesin dan sistem propeler.
ATR 42-500 menggunakan mesin turboprop Pratt and Whitney Canada seri PW127E.
Daya mesin pada publikasi teknis dan data operator umumnya ditulis di kisaran 2.160 shaft horsepower per mesin.
Propeler enam bilah menjadi pembeda yang sering disebut karena efisiensi dan performa yang lebih baik dibanding varian lebih lama.
Peningkatan juga terjadi pada kokpit.
ATR 42-500 mengadopsi kokpit digital atau glass cockpit yang membantu pilot membaca parameter penerbangan melalui tampilan elektronik.
Dari sisi performa, ATR 42-500 umum disebut memiliki ketinggian operasi maksimum sekitar 7.620 meter.
Kecepatan jelajah tipe ini sering dirujuk mendekati 556 kilometer per jam.
Jarak terbang maksimum pada konfigurasi tertentu kerap disebut sekitar 2.000 kilometer.
Kapasitas kursi penumpang untuk ATR 42-500 lazimnya berada pada rentang 42 sampai 50 kursi.
Konfigurasi yang paling sering disebut adalah sekitar 46 kursi di luar kru.
Dimensi badan pesawat untuk keluarga ATR 42 kerap dirujuk memiliki panjang sekitar 22,67 meter.
Bentang sayapnya sering disebut sekitar 24,57 meter.
Kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan yang relatif pendek menjadi alasan tipe ini diminati untuk operasi di bandara dengan keterbatasan infrastruktur.
Untuk unit PK-THT yang dioperasikan IAT, data yang beredar menyebut pesawat ini merupakan produksi tahun 2000.
Nomor seri pesawat yang disebut untuk PK-THT adalah 611.
Dalam operasi sehari-hari, ATR 42-500 kerap dipilih untuk rute regional yang membutuhkan efisiensi bahan bakar dan fleksibilitas misi.
Pada kasus PK-THT, pesawat ini juga digunakan untuk penerbangan khusus yang melibatkan penumpang dari instansi pemerintah.
Pabrikan pesawat menetapkan desain dasar, namun kelayakan operasi sangat ditentukan oleh kepatuhan prosedur, kondisi cuaca, dan pemeliharaan operator.
Investigasi KNKT pada insiden PK-THT masih berjalan, termasuk pendalaman data perekam penerbangan.

















